Selasa, 12 Juni 2018

HARI RAYA BAGI IBUKU

Hari Raya Bagi Ibuku

    Hari raya bagi ibuku adalah sekelumit rangkaian kegiatan mengolah otot dan otak yg tiada ujungnya. Mulai dari sepertiga malam hingga menuju ke sepertiga malam berikutnya adalah keharusan yg cukup melelahkan bagi kami yg melihatnya, pun aku yg membantunya. Ini bukan tentang hari H nya. Tapi tentang hari menjelang harinya. Sungguh kini aku belajar banyak. Aku melihatnya dalam sudut pandang yg berbeda. Dia yg kulihat secara berbeda, bukan sebagai ibuku. Tapi sebagai perempuan berdedikasi Maha kepada keluarganya. Aku melihatnya dengan kacamata baru. Yah walaupun tak bisa kutepis perasaan sendu sebagai seorang yg pernah terlahir dari rahimnya.

Aku bertanya-tanya dalam pikiranku. "Bagaimana bisa ibuku disaat yg lain sibuk mengurus pakaian yg akan digunakan untuk lebaran,  ia malah sibuk menenggelamkan diri dan berjibaku dengan dapur dan keperluan kami". (Tanyaku dalam hati sewaktu aku berhenti memainkan handphoneku dan memilih memperhatikan ibu).

Aku lagi bertanya dalam bisuku,
"tidakkah ia sebagai perempuan punya naluri ingin berhias walaupun hanya dengan gamis baru?" (Dalam lamunanku sembari bertopang dagu melihat ibu mondar-mandir di dapur)

"Apakah seorang perempuan ketika menjadi ibu, kodrat perempuannya melebur bersama kebiasaan menomorsatukan orang lain dibanding dirinya?" (Sayang, lamunanku terhenyak ketika ibu berteriak meminta dibantu wkwk, padahal pertanyaanku masih banyak dan menggumpal dalam otakku)

Ibuku. Jangankan membeli baju baru,  bertanya baju apa yg bagus dipakaipun tidak. Sebagai anak perempuan tertua,  aku merasa wajib menerima pertanyaan itu. Jangankan ingin merekomendasikan ini itu, sekali lagi ibuku niat kepasar pun tidak, bahkan bertanyapun tidak. Aplagi hanya untuk mengeluhkan hal-hal seperti perbincangan anak perempuan dan ibunya pada umumnya.

Bukan. Kami bukannya tak akrab. Hanya saja ibuku memang selalu seperti itu. Setiap raya,  ia tak pernah pusing dengan motif apa yg bagus, model apa yg terbaru, warna apa yg cantik, baju bagaimana yg cocok untuknya.

Tahun-tahun yg lalu.. Aku memaklumi kebiasaan-kebiasaan itu. Tapi tidak dengan sekarang, ku pikir aku cukup dewasa untuk meminimalisir egoku sebagai anak perempuan yg selalu meminta ini itu, dengan memperhatikan bahwa dalam keluargaku ada perempuan lain yg haknya secara diam dan perlahan terenggut. Karena aku wanita dan ibu juga wanita. maka aku sepenuhnya paham apa yg menjadi keinginan-keinginan maupun kodrat kami. Tapi sungguh aku tak paham dengan ibuku. Atau mungkin saja aku akan paham, tapi setelah aku menjadi ibu seperti ibuku. Karena bagiku menjadi ibu semua perempuan bisa, tpi menjadi seperti ibuku adalah langka. Dengan warisan ego besar sebagai perempuan millenial hal tersebut adalah tantangan terbesar yg pernah ada.

Aku mencintaimu ibu.. Aku mencintaimu mama..


  1. Dari anakmu perempuanmu,  

Selvi A. Ahmad

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman