Sabtu, 16 Juni 2018

DILEMA ANAK PNS


Dilema Anak PNS.



PNS. Pegawai Negeri Sipil Pekerjaan teraman smpai akhir hayat katanya. Katanya loh ya.

Kata mereka yg punya orangtua PNS itu pasti berkecukupan. Banyak duit. Tiap bulan ada yang masuk. Nerima gaji 13 lah 14 lah 15 lah 16 lah. Eh gak. Smpe gaji 14 doang. Nerima sertifikasi lah, pokonya keliatannya nerima duit mulu. Iya itu hanya penampakan luarnya doang. Duh gusti, speechless lah kalo dijelasin panjang lebar.

Anak PNS banyak nyeseknya (baru anaknya apalgi ortunya), terutama pas perkuliahan (Belum pas bareng saudara, tetangga, tapi gw bahasnya yg perkuliahan saja yg bermanfaat dikit, yg lain disimpen dalam ati sambil sapu-sapu dada). Di perkuliahan spp mehong mah.  Mau nyari beasiswa selalu gagal sebelum mencoba. Karena pasti syaratnya Surat Keterangan Tidak Mampu/ Surat keterangan ekonomi lemah. Jreng. Angkat tangan. Gak bakal dapat. Kecuali orang kelurahannya bisa disuap. Nyatanya? Ga bisa! (Alhamdulillah). 

Pertanyaannya kok nyari beasiswa, kan anak PNS? Gue anak PNS bro, bukan anak CEO MNC Group, ato anak dari pemilik PT. Indofood. Jelas? Cuma anak PNS doang. Ga bersyukur? Cuma mau membuka mata kalian semua, jadi anak yg orangtuanya PNS ga selamanya always ada. Nah soal beasiswa setidaknya ada satu beasiswa yg menjadi tumpuan harapan (yaelah bahasanya haha). Apa itu ? Beasiswa PPA atau beasiswa prestasi. Tahun kemarin pernah dapat, alhamdulillah. Cuman kuotanya dikit banget. Yang nyeseknya pernah ngurus baru-baru. Udah berjuang kesana kemari. Oke fix, pas verifikasi berkas sang verifikator langsung nengok kolom pekerjaan orangtua, trus gantian nengok mukaku yg kusam bekas perjuangan melengkapi berkas.. "Orangtua PNS?" Jlugh. Aku jawab dengan senyum tanpa le mineral (kaya  ga ada manisnya gitu) “iya”. Oke coba bayangin. Beasiswa prestasi, hubunganya dengan PNS apa? Bahkan tertera jelas peraturan penentuan prioritas itu : 
- IPK tertinggi, 
- SKS terbanyak, 

iya sih yg terakhir.. 
- Yg kurang dari segi ekonomi. 

Pertanyaanya. Kalo kurang dari segi ekonomi kan harusnya bidikmisi. Secarakan orang-orang bilang anak PNS always berduit, eh pas beasiswa prestasi ditanya yg kurang dri segi ekonomi. Iki piye toh? Kalo orang jawa bilang. Kalo orang buol, kodoyooo tii?!. Kalo gorontalo Wololo uti?

Yah iyo dang. Mungkin kurang dari segi ekonomi jika dibandingkan pendaftar lainnya. Gini ya PNS gaji pokok 3 juta misalnya dengan potongan bank 2 jt dan tanggungan 4 dibandingkan dengan yang golongan sama dengan tanggungan 1 org misalnya? Atau dengan wiraswasta yg punya 1 anak doang? Nah wiraswasta masalahnya beda lagi. Wiraswasta gimana dulu. 

Nah satu lagi yg luput. PNS itukan punya golongan. Bahkan untuk bapakku yg golongan 3C belum nerima sertifikasi. Jadi behind the storynya only bapak yg PNS ibu IRT. Bapakku Nerima nya non-sertifikasi. Bayangin. Sertifikasi nerimanya berkalikali lipat. Nonser nerimanya 1 kali lipat. Iyaiya alhamdulillah tapi gak sebanding dengan kerja yg sama. And tau yang paling nyesek lagi, nonser udah dihilangin! Dihilangin untuk bapakku kali ya, krna ga ngurus surat apa itu namanyaa entah. Emm.. kaya pengen berkata sesuatu, tapi tak tau apa.

Selain itu, gaji udah minus. Rahasia umum itu mah, kalo papa bilang " kaki kanan kiri keikat di bank". Gaji minus ngambil duit banyak demi pendaftaran kuliah anak ke-2, dengan durasi peminjaman sampai 10tahun lamanya. Bukan PNS kalo ga kaya gitu. Lah, duit abis duluan, padahal anak ke-3 road to kuliah. Puyengkan jadi PNS. Kerja terus. Gaji minus. Jadi berhenti bertanya. Kenapa kami masih ngebet nyari beasiswa. Nanyanya nanti aja kalo bapakku udah ganti profesi jadi CEO Microsoft Corporation (Warisin harta Bill Gates). 
Sekian makasih.


Selvi A. Ahmad

Selasa, 12 Juni 2018

HARI RAYA BAGI IBUKU

Hari Raya Bagi Ibuku

    Hari raya bagi ibuku adalah sekelumit rangkaian kegiatan mengolah otot dan otak yg tiada ujungnya. Mulai dari sepertiga malam hingga menuju ke sepertiga malam berikutnya adalah keharusan yg cukup melelahkan bagi kami yg melihatnya, pun aku yg membantunya. Ini bukan tentang hari H nya. Tapi tentang hari menjelang harinya. Sungguh kini aku belajar banyak. Aku melihatnya dalam sudut pandang yg berbeda. Dia yg kulihat secara berbeda, bukan sebagai ibuku. Tapi sebagai perempuan berdedikasi Maha kepada keluarganya. Aku melihatnya dengan kacamata baru. Yah walaupun tak bisa kutepis perasaan sendu sebagai seorang yg pernah terlahir dari rahimnya.

Aku bertanya-tanya dalam pikiranku. "Bagaimana bisa ibuku disaat yg lain sibuk mengurus pakaian yg akan digunakan untuk lebaran,  ia malah sibuk menenggelamkan diri dan berjibaku dengan dapur dan keperluan kami". (Tanyaku dalam hati sewaktu aku berhenti memainkan handphoneku dan memilih memperhatikan ibu).

Aku lagi bertanya dalam bisuku,
"tidakkah ia sebagai perempuan punya naluri ingin berhias walaupun hanya dengan gamis baru?" (Dalam lamunanku sembari bertopang dagu melihat ibu mondar-mandir di dapur)

"Apakah seorang perempuan ketika menjadi ibu, kodrat perempuannya melebur bersama kebiasaan menomorsatukan orang lain dibanding dirinya?" (Sayang, lamunanku terhenyak ketika ibu berteriak meminta dibantu wkwk, padahal pertanyaanku masih banyak dan menggumpal dalam otakku)

Ibuku. Jangankan membeli baju baru,  bertanya baju apa yg bagus dipakaipun tidak. Sebagai anak perempuan tertua,  aku merasa wajib menerima pertanyaan itu. Jangankan ingin merekomendasikan ini itu, sekali lagi ibuku niat kepasar pun tidak, bahkan bertanyapun tidak. Aplagi hanya untuk mengeluhkan hal-hal seperti perbincangan anak perempuan dan ibunya pada umumnya.

Bukan. Kami bukannya tak akrab. Hanya saja ibuku memang selalu seperti itu. Setiap raya,  ia tak pernah pusing dengan motif apa yg bagus, model apa yg terbaru, warna apa yg cantik, baju bagaimana yg cocok untuknya.

Tahun-tahun yg lalu.. Aku memaklumi kebiasaan-kebiasaan itu. Tapi tidak dengan sekarang, ku pikir aku cukup dewasa untuk meminimalisir egoku sebagai anak perempuan yg selalu meminta ini itu, dengan memperhatikan bahwa dalam keluargaku ada perempuan lain yg haknya secara diam dan perlahan terenggut. Karena aku wanita dan ibu juga wanita. maka aku sepenuhnya paham apa yg menjadi keinginan-keinginan maupun kodrat kami. Tapi sungguh aku tak paham dengan ibuku. Atau mungkin saja aku akan paham, tapi setelah aku menjadi ibu seperti ibuku. Karena bagiku menjadi ibu semua perempuan bisa, tpi menjadi seperti ibuku adalah langka. Dengan warisan ego besar sebagai perempuan millenial hal tersebut adalah tantangan terbesar yg pernah ada.

Aku mencintaimu ibu.. Aku mencintaimu mama..


  1. Dari anakmu perempuanmu,  

Selvi A. Ahmad

Minggu, 03 Juni 2018

KAJJA HIJRAH! KPOP ITU CANDU~

Assalamu’alaikum teman-teman.
Saya  kembali lagi dengan membawa berita gembira. Ini masih terkait dengan postingan terakhir saya tentang melangkah hijrah dalam dunia perkpopan. Sebelumnya saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Insyaa Allah amal ibadah kita diterima Allah swt.  Aamiin.

Ramadhan kali ini menjadi sedikit special. Terutama terkait keinginan untuk hijrahku dan temanku aulia. Semuanya menjadi lebih mudah dibulan yang penuh rahmat ini. Perlahan tapi pasti ternyata candu ini dapat terobati. Ada pemikiran-pemikiran yang terus ada dalam benak. Perasaan takut terhadap kesiapan hari kematian makin membuat semuanya menguat. Masyaa Allah. 

Pokoknya banyak banget deh pelajaran yang bisa kudapatkan. Cukup buatku untuk tidak terjerumus kembali. Memang benar adanya, ketika menyukai sesuatu lalu dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang kita sukai itu ternyata bukanlah hal baik, respon pertama yang akan kita berikan adalah sebuah penyangkalan, berusaha mencari pembenaran, dan bahkan akan menyalah-nyalahkan seseoran ataupun keadaan. Seperti tulisanku dipostingan sebelumnya. Tapi percayalah, dalam kesadaran tersebut ada segerombolan pemikiran yang mengacaukan pikiran. “Ah bagaimana kalau yang mereka katakan itu benar. Bagaimana kalo perkataan mereka benar bahwa BTS itu adalah bagian dari iluminati lalu bukankah aku mengambil bagian dengan mendukung mereka”. Sangat merisaukan sebenarnya. Tapi setelah kesadaran itu muncul, niatan untuk segera berubah dan meninggalkan perkara ini demi Allah itu menjadi semakin menguat. Candu ini seakan terobati dengan perlahan meninggalkan mendengarkan menonton hal-hal berbau BTS. Cuman BTS doang sih. Kenapa? Karena itu adalah ide pokok dari semua masalah ini. Lalu, akan disusul dengan konten lain. Pemikiran – pemikiran tentang “sudah sungguh jauh aku tertinggal hanya karena terkungkung didunia fantasi ini”. Yang lain udah giat berdakwah, rasanya iri melihat mereka. Mau berdakwah? Maka aku harus menjadikan diriku lebih baik dulu, agar pesan religi yang disampaikan akan diterima orang. Satu yang kuyakini, meninggalkan kpop dengan alasan iluminati bukanlah satu-satunya, jauh daripada itu, perilaku ini benar-benar membuang waktu. Jika dipergunakan untuk hal yang bermanfaat terkait umat, sungguh luar biasa rasanya. 

Hal yang paling memotivasiku adalah kenyataan bahwa hidupku jauh lebih beruntung dibanding saudara-saudaraku seiman di Palestina, tapi mereka jauh lebih baik nyatanya. Ketika konflik terjadi didaerah mereka, mereka tak sedikitpun imannya goyah. Bahkan ketika harus menghadapi bom dan rentetan tembakan mereka masih bisa membentuk para penghafal Al-qur’an, Subhanallah Lailahailallah. Aku semakin yakin. Aku harus berubah. Alhamdulillah, aku kini berani menghapus sebagian besar koleksi Kpopku. Berpuluh-puluh giga ukurannya, dan kurasa setelah itu laptopku tersenyum lebar lepas dari sesak. Lalu, mulailah kekosongan ini,  ku isi dengan hal-hal yang jauh lebih berarti, setidaknya di mata Tuhan. Mengoleksi kajian-kajian agama, mengganti music dengan nasyid, sangat lega rasanya. Semoga aku bisa istiqamah. Oh yah, temanku Aulia juga punya cerita lain, dan Alhamdulillah dia yang duluan yakin terkait hijrah ini.

Aku berpesan pada semua Kpopers Muslimah, tinggalkan dunia ini. Sangat terbuang waktu kita untuk hal yang tidak ada syafaatnya dihari kemudian. Sungguh. Waktu kita sangat berharga, jauh lebih baik jika kita gunakan demi kepentingan umat dan hari akhir. Mari sama-sama berhijrah.

Ingat Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

Rasulullah juga berkata :

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”



Salam sayang dariku,
Korban Gelombang Hallyu 2009.
Selvi A. Ahmad

About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman