Aku Bukan Rumahmu (Sebuah Usaha Mengikhlaskan)
Aku
sempat terlalu yakin pada diriku yang kokoh membangun tembok pembatas antara
cinta dan nafsu. Sampai suatu ketika, engkau datang menawarkan madu yang dengan
rela ku kecup hingga membuatku mabuk. Dalam mabuk, aku pelan-pelan mengikis
tembok pertahananku menggunakan pena bergambarkan hati berwarna merah jambu.
Hingga tak ku sangka tembok tersebut rubuh separuh, membawa puing-puing prinsip
yang tak lagi berarti. Aku tahu ini keliru, aku mabuk pada anggur yang dibeli
menggunakan hati perempuan lain, tapi mabuk takkan pernah mampu membuat orang
bisa memilah mana nyata mana semu. Aku bersamamu, menari bak sepasang burung
yang melalangbuana di langit tanpa perlu memandang riuh dibawah sayap kita, aku
bersamamu bagai bahagia para penikmat senja dibawah langit jingga, aku
bersamamu bagai merdu dentingan cawan anggur yang siap untuk diseruput. Tapi
tidak ada sesuatu yang abadi perihal rasa bukan?, apalagi rasa kita terlalu
rapuh untuk disebut cinta. Engkau yang masih terikat dengannya, dan aku yang masih
terhalang separuh tembok ketakutan yang masih utuh. Karma, sebab akibat dan dosa,
adalah hal-hal yang setiap menit kuhirup dan aku asma karenanya. Tapi, engkau
menyembuhkanku kembali, hadirmu menjadi obat untuk setiap gemetar yang kusebut
ragu.
Lalu ini menjadi siklus, segala hal yang indah menjadi momok yang setiap malam
menghantuiku, engkau yang ku tak tahu setidak dalam apa rasamu padanya, dan aku
yang tak kutahu seyakin apa aku akan mempertahankanmu. Aku butuh jeda. Kataku.
Hingga dalam jeda itu, luka menampakkan wajahnya, dalam bentuk senyum kalian
berdua disebuah whatsapp story. Aku menyambut luka itu dengan hati yang lebam,
begitu kejam engkau mengantarkannya padaku sedang kau tahu aku hanya
memberikanmu waktu untuk menyederhanakan kisah kita, dengan mungkin harapku kau
akan memilih dengan sadar dan pikiran yg terbuka bahwa rumahmu itu adalah aku.
Tapi tidak. Kau malah membuatku semakin yakin, aku telah salah melangkah.
Sayang, harapku sederhana. Kau dan aku bersatu padu menjadikan hati kita berdua
rumah yang sederhana tapi bahagia untuk kita tempati. Nyatanya hatimu dan
hatiku tidak layak untuk ditempati, hanya layak untuk disinggahi. Bahagialah,
aku sedang menyusun kembali tembok pertahananku, sebelum datangnya seseorang
yang dengan sopan meminta untuk dilewati. Kamu? Akan kupikir kembali apakah
masih layak untuk tinggal atau harus ku tanggalkan.
0 komentar:
Posting Komentar