Jumat, 18 Oktober 2019

Aku Bukan Rumahmu (Sebuah Usaha Mengikhlaskan)


Aku sempat terlalu yakin pada diriku yang kokoh membangun tembok pembatas antara cinta dan nafsu. Sampai suatu ketika, engkau datang menawarkan madu yang dengan rela ku kecup hingga membuatku mabuk. Dalam mabuk, aku pelan-pelan mengikis tembok pertahananku menggunakan pena bergambarkan hati berwarna merah jambu. Hingga tak ku sangka tembok tersebut rubuh separuh, membawa puing-puing prinsip yang tak lagi berarti. Aku tahu ini keliru, aku mabuk pada anggur yang dibeli menggunakan hati perempuan lain, tapi mabuk takkan pernah mampu membuat orang bisa memilah mana nyata mana semu. Aku bersamamu, menari bak sepasang burung yang melalangbuana di langit tanpa perlu memandang riuh dibawah sayap kita, aku bersamamu bagai bahagia para penikmat senja dibawah langit jingga, aku bersamamu bagai merdu dentingan cawan anggur yang siap untuk diseruput. Tapi tidak ada sesuatu yang abadi perihal rasa bukan?, apalagi rasa kita terlalu rapuh untuk disebut cinta. Engkau yang masih terikat dengannya, dan aku yang masih terhalang separuh tembok ketakutan yang masih utuh. Karma, sebab akibat dan dosa, adalah hal-hal yang setiap menit kuhirup dan aku asma karenanya. Tapi, engkau menyembuhkanku kembali, hadirmu menjadi obat untuk setiap gemetar yang kusebut ragu.
Lalu ini menjadi siklus, segala hal yang indah menjadi momok yang setiap malam menghantuiku, engkau yang ku tak tahu setidak dalam apa rasamu padanya, dan aku yang tak kutahu seyakin apa aku akan mempertahankanmu. Aku butuh jeda. Kataku. Hingga dalam jeda itu, luka menampakkan wajahnya, dalam bentuk senyum kalian berdua disebuah whatsapp story. Aku menyambut luka itu dengan hati yang lebam, begitu kejam engkau mengantarkannya padaku sedang kau tahu aku hanya memberikanmu waktu untuk menyederhanakan kisah kita, dengan mungkin harapku kau akan memilih dengan sadar dan pikiran yg terbuka bahwa rumahmu itu adalah aku. Tapi tidak. Kau malah membuatku semakin yakin, aku telah salah melangkah. Sayang, harapku sederhana. Kau dan aku bersatu padu menjadikan hati kita berdua rumah yang sederhana tapi bahagia untuk kita tempati. Nyatanya hatimu dan hatiku tidak layak untuk ditempati, hanya layak untuk disinggahi. Bahagialah, aku sedang menyusun kembali tembok pertahananku, sebelum datangnya seseorang yang dengan sopan meminta untuk dilewati. Kamu? Akan kupikir kembali apakah masih layak untuk tinggal atau harus ku tanggalkan.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman