JERATAN SEKULERISME DAN FEMINISME (Pt. 1)
Bicara tentang sekulerisme mungkin terkesan agak berat bahkan mungkin asing bagi pendengaran sebagian orang. Apalagi di jaman kekinian ini. Sebelumnya saya akan membahas tentang betapa mengkhawatirkannya keadaan anak-anak dijaman sekarang yang focusnya telah beralih pada hal-hal yang bukan hanya tidak ada faedahnya, tapi banyak mudharatnya. sebagai generasi merunduk dalam artian bukan merunduk pada filosofi padi tapi pada metafora yang memiliki konotasi kurang baik, generasi merunduk disini maknanya adalah generasi yang ditangannya gadget telah menggantikan posisi kebutuhan seperti makan. Biar gak makan asal main gadget. Hal ini juga didukung dengan perkembangan media social yang tak pernah ada istirahatnya, untuk mendapatkan informasi begitu cepatnya bahkan ketika informasi itu tidak diminta, tersaji begitu saja. Tidak ada filter informasi untuk tingkatan usia, semua bisa mengaksesnya. Pun itu terjadi pada remaja atau tahap menuju dewasa dimana generasi muda ini sudah selumrahnya untuk kritis dan memfilter segala informasi atau makanan yang disuapi media malah sebaliknya, diombang-ambingkan sebuah benda tak kasat mata sebut saja namanya jaringan internet.
Disini saya ingin bercerita, tentang perjalanan saya menemukan apa yang saya cari, sebagai seorang perempuan yang haus akan pengetahuan dan sebagai seseorang yang sangat mencintai buku dan literasi, saya terus mengasah diri untuk bisa menggali berbagai hal, terutama pada kemana arah saya harus melangkah. Sebelumnya saya sangat tertarik pada orang-orang yang kritis dan membelah segala sesuatu untuk menemukan sebuah subtansi, saya terpana pada mereka yang selalu berpikir dan memandang sesuatu dengan cara berbeda dari yang lainnya, selang beberapa lama saya mulai mengenali siapa dan apa yang ada diluar sana, apa yang mereka inginkan dan apa yang saya harus lakukan versi mereka. Saya paham ternyata hampir semua dari orang-orang itu adalah pengagum sekulerisme.
Apa itu sekulerisme?
Kamu yang belum tahu, bisa googling saja dan baca sendiri, pahami sendiri. Kalau saya rangkum dalam bahasa sederhana saya, sekulerisme adalah upaya pemisahan agama dengan kehidupan. Dimana letak bahayanya?
Begini saya jelaskan terlebih dahulu, sekulerisme sangatlah berbahaya bagi mereka yang memiliki ideologi tersendiri, seperti kita yang beragama muslim. Sekuler sendiri merupakan produk barat akibat ketidak sepemahamannya mereka dengan peraturan gereja diwaktu dahulu, dan inilah dasar mengapa orang-orang sekuler anti terhadap aturan-aturan agama, tapi tidak berati bahwa orang sekuler itu ateis, bahkan banyak yang memeluk agama hanya saja bagi mereka aturan agama hanya ada dibeberapa kondisi, tidak untuk mencampur segala urusan, agama hanya sebagai privasi.
Kita yang muslim pasti sadar benar bahwa ini adalah lampu bahaya yang bisa merusak aqidah kita, islam yang turun bukan hanya sebagai agama tapi juga sebagai petunjuk hidup untuk alam semesta. Didalam Islam semua hal telah diatur, begitulah sang pencipta begitu cintanya pada kita. Bagaimana tidak, seorang ibu saja pasti akan mengarahkan dan mendidik anaknya untuk bisa berhasil dimasa depan, apalagi Sang Rabb Yang Maha Penyayang. Begitu detailnya mulai dari perkara kencing saja diatur apalagi perkara besar seperti ideologi dan hukum-hukum berkehidupan. Sedangkan sekulerisme pun Feminisme menentang segalah sesuatu yang mengikat hak-hak manusia, dengan landasan HAM. Slogan-slogan yang digaungkanpun terasa sangat menarik : “TUBUHKU OTORITASKU”, “HIJAB ATAU TIDAK ITU PILIHANKU”, demikianlah jualan slogan yang begitu angkuhnya. Feminisme digerakakan oleh mereka yang menjunjung tinggi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Ketika demonstrasi itu banyak pula Muslimah berhijab pula ikut didalamnya, tidak aneh jika mereka yg tidak berTuhan menggaungkan hal tersebut, tapi mereka yang beragama dengan kepercayaan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, sangatlah tidak masuk akal ikut-ikutan.
Islam telah secara sempurna mengatur pembagian antara perempuan dan laki-laki, perintah hijab sendiri turun atas dasar yang bisa diterima nalar. Saya sangat terkejut menonton video yang sempat viral, dimana dua perempuan yang mengaku FENEM (nama komunitas FEMINISME) memberanikan diri bertelanjang dada naik ke panggung mengacaukan konferensi muslim di paris sembari berteriak saya adalah nabi saya.
Secara logika, mungkin mereka mengaku sebagai orang yang lebih mengedapankan nalar dibanding wahyu-wahyu Tuhan, tapi apa yang mereka lakukan benar-benar bukan memuliakan dirinya bahkan malah menghinakan martabat semua perempuan termasuk saya jika dipandang dari segi nalar yg mereka agungkan. Saya malu, demi Allah! Dimana letak KEMULIAAN mempertontonkan dada dan bagian tubuh yang sensual? Mulianya dimana? Bahkan ketika saya tidak mencampurkan aturan Tuhan terkait aurat, saya tetap tidak bisa memahami pikiran gila seperti itu. Bayangkan saja, makanan yang terbuka bisa dikerumuni lalat, permen yang dibiarkan tanpa pembungkus akan dikerumuni semut. Bagaimana dengan manusia, bagaimana dengan wanita yang sangat berharga ini? Logikanya dimana!
Kalau bicara tentang perspektif wanita dalam islam, rasanya saya tanpa menjelaskan hanya menganalogikan seperti makanan tersebut semua pasti sudah paham. Bahwa islam sangat memuliakan wanita dengan memerintahkan kita untuk menutupi apa yang tidak sepantasnya diperlihatkan. Bahkan perintah berhijab didasarkan pada untuk menjaga perempuan bukan untuk kecantikan atau untuk alasan umum lainnya. Menjaga dari apa? Dari segala sesuatu yg mebahayakan dirinya. Tuhan Maha Romantis, bukan?! Hukum-hukum syara’ tidak akan mungkin bertentangan dengan logika dan nalar, yang cacat itu di muanusianya.
0 komentar:
Posting Komentar