Rabu, 10 Oktober 2018

BENCANA DI TANAH KAILI (SULTENG - PALU DONGGALA)

Hasil gambar untuk foto bencana palu

Hasil gambar untuk foto jembatan bencana palu

Assalamu’alaikum..
Mungkin tulisan ini sedikit pahit, dengan napas tertahan aku berusaha menuliskannya
Ternyata inilah yang dirasakan mereka yang ada di Lombok, Aceh, ataupun Yogyakarta
Walau tak sepenuhnya kurasakan, tapi perasaannya begitu nyata

Innailillahiwainailaihirajiun. Tanah lahir ku, tempat pulang yang selalu dirindu, tempat aman dan ternyaman. Kini porak poranda. Sulawesi tengah. 

Aku merantau. Gorontalo tepatnya. Berada sedikit aman dari tempat kejadian. Tapi perasaan shock dan seperti mimpi masih bersemayam dibenakku. Masih tidak percaya, kota palu sebegitu hancurnyal porak-poranda, luluh lantah, naudzubillah. Gempa 7,7 sr dan tsunami menghantam semuanya. Korban jiwa ribuan telah tercatat, yang membuatku tak berdaya, adakah sanak saudaraku salah satunya? rumah-rumah banyak yang hancur, bahkan hilang ditelan tanah yang mengeluarkan lumpurnya. Semua kebangaan dari kota kami, kini tak lagi berharga. Benar adanya, apa yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Semuanya kembali pada Allah. Malam kejadian, orang – orang bersuka cita menunggu pembukaan festival palu nomoni di pantai talise pantai wisata, sebagai perayaan hari ulangtahun kota, apa mau dikata sebelum resmi dibuka, tsunami lebih dahulu menghantam semuanya tak terkecuali manusianya. Lailahailallah.  Semuanya berlari panik sembari berteriak meminta pertolonganNya, ada juga yang hanya bisa berserah diri karena tak lagi punya daya. Dan semuanya belum lah berakhir, selepas kejadian hingga hari ini aku menuliskan ini, gempa susulan sudah terhitung 200 kali lebih. Orang – orang dilanda trauma dan ketakutan luar biasa, semua berusaha untuk bertahan hidup bagaimanapun caranya. Komunikasi putus, tiang listrik tumbang hingga nyala padam, jalanan rusak terbelah, rumah – rumah tersisa hanya atapnya sja yang sudah rata dengan tanah, sedang manusia-manusia lain berada diketinggian dengan jantung berdetak ribuan kali lebih cepat, melihat luluh lantahnya kota palu dari atas sana sembari menangis dan memikirkan saudara ayah ibu dan teman-teman dimana?. Menjadi satu-satunya yang menyesal begitu spontannya ingin hidup dan tidak sempat memikirkan yang lainnya. Pun bantuan terlambat datang, Karena memang komunikasi tidak berjalan, orang – orang dengan terpaksa menjual kehormatannya demi bertahan hidup. Kasarnya adalah menjarah, mini market, toko, atm, dan sebagainya. Kita tak bisa menyalahkan mereka, duka mereka berbalut luka yang parah. Mereka sebelumnya tidak begitu, tapi mohon pahamilah. Mereka hanya ingin bertahan ditengah kondisi yang menginginkan mereka mati.

Dan akhirnya, mereka tak tahan lagi. Gempa susulan yang tak pernah ada ujungnya, bau mayat yang belum juga di evakuasi, wajah kota yang kini rata, membuat psikis mereka semakin menggila. Mereka ingin keluar dari sana. Mereka ingin meninggalkan palu yang tak lagi menjaga. Cinta memang cinta, tapi mereka merasa tak mampu lagi bertahan jika terus disana.

Sedang aku, duduk diam dan menggila dengan pikiran – pikiran yang melayang jauh entah kemana. Air mata jatuh pelan – pelan hingga membuncah. Sepupuku, tanteku, hampir semua teman – temanku ada di Palu sana. Gemetar tangan menunggu kabar, bergerak cepat jemari mencari kepastian mereka satu persatu. Alhamdulillah beberapa baik-baik saja, tetapi yang lainnya belum tau dimana. Hingga satu kabar aku dengar, indah sahabatku yang sempat mengabari keadaannya berkata bahwa ia sedang sendiri di malam kejadian, berada di ketinggian yang entah dimana, terpisah dengan kakanya, dan setelah beberapa hari berlalu kakanya dinyatakan telah menjadi korban meninggal akibat terseret tsunami. Hancur aku rasa, air mataku jatuh dan terisak berat. Begitu besar ujian ini, ku teriakkan dalam hatiku. Kakaknya indah adalah teman terbaik untuknya, yang selalu menjaga rumah dan keluarga ketika indah merantau kuliah. Kini, dengan menangis ia berkata sungguh berat beban yang harus ditanggunggnya untuk menggantikan kakaknya. Dia sudah kehilangan optimisme hidup. Dia hancur. Dan aku turut hancur mendengarnya. Tetapi segala puji bagi Allah, karena Allah dia masih berusaha bangkit. Benar Allah adalah penguat bagi jiwa yang putus asa.
Begitu dalam duka. Begitu parah luka.
Kirimkan do’a untuk Sulawesi Tengah, semoga kami bisa bangkit lagi dan pulih sepenuhnya.

Gorontalo, 29 september 2018

Selvi A. Ahmad . Anak dari Sulawesi Tengah




Foto Bencana Palu
Hasil gambar untuk foto bencana paluHasil gambar untuk foto bencana palu

Hasil gambar untuk foto bencana paluHasil gambar untuk foto bencana palu

Gambar terkait

Sabtu, 16 Juni 2018

DILEMA ANAK PNS


Dilema Anak PNS.



PNS. Pegawai Negeri Sipil Pekerjaan teraman smpai akhir hayat katanya. Katanya loh ya.

Kata mereka yg punya orangtua PNS itu pasti berkecukupan. Banyak duit. Tiap bulan ada yang masuk. Nerima gaji 13 lah 14 lah 15 lah 16 lah. Eh gak. Smpe gaji 14 doang. Nerima sertifikasi lah, pokonya keliatannya nerima duit mulu. Iya itu hanya penampakan luarnya doang. Duh gusti, speechless lah kalo dijelasin panjang lebar.

Anak PNS banyak nyeseknya (baru anaknya apalgi ortunya), terutama pas perkuliahan (Belum pas bareng saudara, tetangga, tapi gw bahasnya yg perkuliahan saja yg bermanfaat dikit, yg lain disimpen dalam ati sambil sapu-sapu dada). Di perkuliahan spp mehong mah.  Mau nyari beasiswa selalu gagal sebelum mencoba. Karena pasti syaratnya Surat Keterangan Tidak Mampu/ Surat keterangan ekonomi lemah. Jreng. Angkat tangan. Gak bakal dapat. Kecuali orang kelurahannya bisa disuap. Nyatanya? Ga bisa! (Alhamdulillah). 

Pertanyaannya kok nyari beasiswa, kan anak PNS? Gue anak PNS bro, bukan anak CEO MNC Group, ato anak dari pemilik PT. Indofood. Jelas? Cuma anak PNS doang. Ga bersyukur? Cuma mau membuka mata kalian semua, jadi anak yg orangtuanya PNS ga selamanya always ada. Nah soal beasiswa setidaknya ada satu beasiswa yg menjadi tumpuan harapan (yaelah bahasanya haha). Apa itu ? Beasiswa PPA atau beasiswa prestasi. Tahun kemarin pernah dapat, alhamdulillah. Cuman kuotanya dikit banget. Yang nyeseknya pernah ngurus baru-baru. Udah berjuang kesana kemari. Oke fix, pas verifikasi berkas sang verifikator langsung nengok kolom pekerjaan orangtua, trus gantian nengok mukaku yg kusam bekas perjuangan melengkapi berkas.. "Orangtua PNS?" Jlugh. Aku jawab dengan senyum tanpa le mineral (kaya  ga ada manisnya gitu) “iya”. Oke coba bayangin. Beasiswa prestasi, hubunganya dengan PNS apa? Bahkan tertera jelas peraturan penentuan prioritas itu : 
- IPK tertinggi, 
- SKS terbanyak, 

iya sih yg terakhir.. 
- Yg kurang dari segi ekonomi. 

Pertanyaanya. Kalo kurang dari segi ekonomi kan harusnya bidikmisi. Secarakan orang-orang bilang anak PNS always berduit, eh pas beasiswa prestasi ditanya yg kurang dri segi ekonomi. Iki piye toh? Kalo orang jawa bilang. Kalo orang buol, kodoyooo tii?!. Kalo gorontalo Wololo uti?

Yah iyo dang. Mungkin kurang dari segi ekonomi jika dibandingkan pendaftar lainnya. Gini ya PNS gaji pokok 3 juta misalnya dengan potongan bank 2 jt dan tanggungan 4 dibandingkan dengan yang golongan sama dengan tanggungan 1 org misalnya? Atau dengan wiraswasta yg punya 1 anak doang? Nah wiraswasta masalahnya beda lagi. Wiraswasta gimana dulu. 

Nah satu lagi yg luput. PNS itukan punya golongan. Bahkan untuk bapakku yg golongan 3C belum nerima sertifikasi. Jadi behind the storynya only bapak yg PNS ibu IRT. Bapakku Nerima nya non-sertifikasi. Bayangin. Sertifikasi nerimanya berkalikali lipat. Nonser nerimanya 1 kali lipat. Iyaiya alhamdulillah tapi gak sebanding dengan kerja yg sama. And tau yang paling nyesek lagi, nonser udah dihilangin! Dihilangin untuk bapakku kali ya, krna ga ngurus surat apa itu namanyaa entah. Emm.. kaya pengen berkata sesuatu, tapi tak tau apa.

Selain itu, gaji udah minus. Rahasia umum itu mah, kalo papa bilang " kaki kanan kiri keikat di bank". Gaji minus ngambil duit banyak demi pendaftaran kuliah anak ke-2, dengan durasi peminjaman sampai 10tahun lamanya. Bukan PNS kalo ga kaya gitu. Lah, duit abis duluan, padahal anak ke-3 road to kuliah. Puyengkan jadi PNS. Kerja terus. Gaji minus. Jadi berhenti bertanya. Kenapa kami masih ngebet nyari beasiswa. Nanyanya nanti aja kalo bapakku udah ganti profesi jadi CEO Microsoft Corporation (Warisin harta Bill Gates). 
Sekian makasih.


Selvi A. Ahmad

Selasa, 12 Juni 2018

HARI RAYA BAGI IBUKU

Hari Raya Bagi Ibuku

    Hari raya bagi ibuku adalah sekelumit rangkaian kegiatan mengolah otot dan otak yg tiada ujungnya. Mulai dari sepertiga malam hingga menuju ke sepertiga malam berikutnya adalah keharusan yg cukup melelahkan bagi kami yg melihatnya, pun aku yg membantunya. Ini bukan tentang hari H nya. Tapi tentang hari menjelang harinya. Sungguh kini aku belajar banyak. Aku melihatnya dalam sudut pandang yg berbeda. Dia yg kulihat secara berbeda, bukan sebagai ibuku. Tapi sebagai perempuan berdedikasi Maha kepada keluarganya. Aku melihatnya dengan kacamata baru. Yah walaupun tak bisa kutepis perasaan sendu sebagai seorang yg pernah terlahir dari rahimnya.

Aku bertanya-tanya dalam pikiranku. "Bagaimana bisa ibuku disaat yg lain sibuk mengurus pakaian yg akan digunakan untuk lebaran,  ia malah sibuk menenggelamkan diri dan berjibaku dengan dapur dan keperluan kami". (Tanyaku dalam hati sewaktu aku berhenti memainkan handphoneku dan memilih memperhatikan ibu).

Aku lagi bertanya dalam bisuku,
"tidakkah ia sebagai perempuan punya naluri ingin berhias walaupun hanya dengan gamis baru?" (Dalam lamunanku sembari bertopang dagu melihat ibu mondar-mandir di dapur)

"Apakah seorang perempuan ketika menjadi ibu, kodrat perempuannya melebur bersama kebiasaan menomorsatukan orang lain dibanding dirinya?" (Sayang, lamunanku terhenyak ketika ibu berteriak meminta dibantu wkwk, padahal pertanyaanku masih banyak dan menggumpal dalam otakku)

Ibuku. Jangankan membeli baju baru,  bertanya baju apa yg bagus dipakaipun tidak. Sebagai anak perempuan tertua,  aku merasa wajib menerima pertanyaan itu. Jangankan ingin merekomendasikan ini itu, sekali lagi ibuku niat kepasar pun tidak, bahkan bertanyapun tidak. Aplagi hanya untuk mengeluhkan hal-hal seperti perbincangan anak perempuan dan ibunya pada umumnya.

Bukan. Kami bukannya tak akrab. Hanya saja ibuku memang selalu seperti itu. Setiap raya,  ia tak pernah pusing dengan motif apa yg bagus, model apa yg terbaru, warna apa yg cantik, baju bagaimana yg cocok untuknya.

Tahun-tahun yg lalu.. Aku memaklumi kebiasaan-kebiasaan itu. Tapi tidak dengan sekarang, ku pikir aku cukup dewasa untuk meminimalisir egoku sebagai anak perempuan yg selalu meminta ini itu, dengan memperhatikan bahwa dalam keluargaku ada perempuan lain yg haknya secara diam dan perlahan terenggut. Karena aku wanita dan ibu juga wanita. maka aku sepenuhnya paham apa yg menjadi keinginan-keinginan maupun kodrat kami. Tapi sungguh aku tak paham dengan ibuku. Atau mungkin saja aku akan paham, tapi setelah aku menjadi ibu seperti ibuku. Karena bagiku menjadi ibu semua perempuan bisa, tpi menjadi seperti ibuku adalah langka. Dengan warisan ego besar sebagai perempuan millenial hal tersebut adalah tantangan terbesar yg pernah ada.

Aku mencintaimu ibu.. Aku mencintaimu mama..


  1. Dari anakmu perempuanmu,  

Selvi A. Ahmad

Minggu, 03 Juni 2018

KAJJA HIJRAH! KPOP ITU CANDU~

Assalamu’alaikum teman-teman.
Saya  kembali lagi dengan membawa berita gembira. Ini masih terkait dengan postingan terakhir saya tentang melangkah hijrah dalam dunia perkpopan. Sebelumnya saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Insyaa Allah amal ibadah kita diterima Allah swt.  Aamiin.

Ramadhan kali ini menjadi sedikit special. Terutama terkait keinginan untuk hijrahku dan temanku aulia. Semuanya menjadi lebih mudah dibulan yang penuh rahmat ini. Perlahan tapi pasti ternyata candu ini dapat terobati. Ada pemikiran-pemikiran yang terus ada dalam benak. Perasaan takut terhadap kesiapan hari kematian makin membuat semuanya menguat. Masyaa Allah. 

Pokoknya banyak banget deh pelajaran yang bisa kudapatkan. Cukup buatku untuk tidak terjerumus kembali. Memang benar adanya, ketika menyukai sesuatu lalu dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang kita sukai itu ternyata bukanlah hal baik, respon pertama yang akan kita berikan adalah sebuah penyangkalan, berusaha mencari pembenaran, dan bahkan akan menyalah-nyalahkan seseoran ataupun keadaan. Seperti tulisanku dipostingan sebelumnya. Tapi percayalah, dalam kesadaran tersebut ada segerombolan pemikiran yang mengacaukan pikiran. “Ah bagaimana kalau yang mereka katakan itu benar. Bagaimana kalo perkataan mereka benar bahwa BTS itu adalah bagian dari iluminati lalu bukankah aku mengambil bagian dengan mendukung mereka”. Sangat merisaukan sebenarnya. Tapi setelah kesadaran itu muncul, niatan untuk segera berubah dan meninggalkan perkara ini demi Allah itu menjadi semakin menguat. Candu ini seakan terobati dengan perlahan meninggalkan mendengarkan menonton hal-hal berbau BTS. Cuman BTS doang sih. Kenapa? Karena itu adalah ide pokok dari semua masalah ini. Lalu, akan disusul dengan konten lain. Pemikiran – pemikiran tentang “sudah sungguh jauh aku tertinggal hanya karena terkungkung didunia fantasi ini”. Yang lain udah giat berdakwah, rasanya iri melihat mereka. Mau berdakwah? Maka aku harus menjadikan diriku lebih baik dulu, agar pesan religi yang disampaikan akan diterima orang. Satu yang kuyakini, meninggalkan kpop dengan alasan iluminati bukanlah satu-satunya, jauh daripada itu, perilaku ini benar-benar membuang waktu. Jika dipergunakan untuk hal yang bermanfaat terkait umat, sungguh luar biasa rasanya. 

Hal yang paling memotivasiku adalah kenyataan bahwa hidupku jauh lebih beruntung dibanding saudara-saudaraku seiman di Palestina, tapi mereka jauh lebih baik nyatanya. Ketika konflik terjadi didaerah mereka, mereka tak sedikitpun imannya goyah. Bahkan ketika harus menghadapi bom dan rentetan tembakan mereka masih bisa membentuk para penghafal Al-qur’an, Subhanallah Lailahailallah. Aku semakin yakin. Aku harus berubah. Alhamdulillah, aku kini berani menghapus sebagian besar koleksi Kpopku. Berpuluh-puluh giga ukurannya, dan kurasa setelah itu laptopku tersenyum lebar lepas dari sesak. Lalu, mulailah kekosongan ini,  ku isi dengan hal-hal yang jauh lebih berarti, setidaknya di mata Tuhan. Mengoleksi kajian-kajian agama, mengganti music dengan nasyid, sangat lega rasanya. Semoga aku bisa istiqamah. Oh yah, temanku Aulia juga punya cerita lain, dan Alhamdulillah dia yang duluan yakin terkait hijrah ini.

Aku berpesan pada semua Kpopers Muslimah, tinggalkan dunia ini. Sangat terbuang waktu kita untuk hal yang tidak ada syafaatnya dihari kemudian. Sungguh. Waktu kita sangat berharga, jauh lebih baik jika kita gunakan demi kepentingan umat dan hari akhir. Mari sama-sama berhijrah.

Ingat Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

Rasulullah juga berkata :

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”



Salam sayang dariku,
Korban Gelombang Hallyu 2009.
Selvi A. Ahmad

Minggu, 04 Maret 2018

I AM A MOSLEM and I AM KPOPER : Melangkah Hijrah ? (BTS dan Korea)



Assalamu’alaikum semuanya..

Apa kabar teman-teman?

Alhamdulillah aku  muncul lagi, tapi postingan kali ini sedikit memuat unsur curhatan.  Mungkin curhatan yang akan mewakilkan kondisi ku dan beberapa orang lainnya diluar sana…



Akhir-akhir ini, oh tidak bukan hanya akhir-akhir ini, tapi dari waktu lalu lalu aku mengalami dilemma mendalam. Ini tentang dunia yang sudah ku geluti selama 9 tahun lamanya, dunia yang mampu menjagaku  dari bisikan untuk tidak tertarik menjalani hubungan yang tak halal. Inilah dunia perkpop-an. Tahun 2009 aku mulai masuk ke dalam dunia ini, sampai detik ini aku belum juga beranjak dari dunia itu. Teman-temanku sudah banyak yang hijrah, namun aku bersama salah seorang temanku masih terkungkung dalam dunia fana ini. Dulu waktu semester 1 – 3 kuliah aku sempat hijrah (sekarang aku semester 6), itu karena aku saat  itu menyukai big bang dan kutemukan ternyata mereka penganut iluminati dan aku dengan mantap meninggalkan dunia ini. Semua berjalan seperti biasanya, namun  setelah 2016 aku dengan tanpa sadar  mulai  terjebak kembali, yaitu ketika aku jatuh hati dengan boyband BTS. Buatku mereka berbeda, buatku mereka bukan hanya sebuah boyband korea, mereka adalah pemusik yang jenius, yang awalnya tidak dianggap oleh dunia dan sekarang seisi amerika eropa dan asia mengaguminya. Aku terus menyemangati mereka, dan mereka menyemangatiku lewat lagunya. Ga ada unsure iluminati seperti yang lain sejauh aku mencarinya, liriknya kebanyakan berisi penolakan terhadap keputusasaan dalam berjuang di hidup dan bermusik, liriknya banyak mengkritisi pemerintah dan oknum-oknumnya, berisi kritikan terhadap sistem yang bobrok dan mengekang. Ah itulah alasan terbesar aku mencintai karya mereka. Hingga semalam aku membuka semua postingan @fuadbkh di instagram, banyak postingan yang menceramahi para kpopers, aku sontak kaget, dan spontan mencari pembenaran. Ku katakan bahwa aku tidak seburuk mereka yang lain, yang menghabiskan uang orangtuanya hanya untuk membeli album dan pernak-pernik lainnya, aku masih menjaga diri dan ibadah, mungkin pikiranku terlalu  sombong. Itu terjadi karena aku benar-benar belum menerima kenyataan bahwa aku telah tersesat di jalan yang keliru. Lalu aku mulai membandingkan lagi diriku dengan teman-teman yang bukan kpopers. Mereka memang tidak mengidolakan siapapun, tapi mereka pacaran dan tidak melaksanakan perintah Allah seperti shalat dan membaca al-qur’an, dan aku lalu mulai merasa diriku lebih baik.  Aku masih dilemma, pertanyaan-  pertanyaan banyak muncul dari dalam kepalaku. Tak bisakah aku tetap menyemangati mereka bahkan setelah mencari tahu bahwa mereka bukan pengikut iluminati? Aku berjanji tak akan melalaikan kewajibanku, tak bisakah aku tetap menyukai mereka? Rasa suka pada mereka, tak benar rasanya dibanding-bandingkan dengan rasa cinta kepada Tuhan dan   Nabiku. Aku menyukai mereka Karena aku menjadikan mereka sebagai media agar aku bisa belajar bahasa inggris dan bahasa korea dan banyak hal lainnya, aku serius sekali lagi ini bukan alasan, aku harus akui aku mulai pandai berbahasa inggris dan korea karena mereka. Dan pembelajaranku belumlah usai. Bolehkah aku tetap melakukannya? Aku tidak ingin menghapus semua koleksi ku tentang korea karena itu hanya sekadar hiburan bagiku yang memilih prinsip untuk sendiri dulu, apakah itu juga masih tak boleh? Lirik mereka tak ada unsur zinanya, tetap tak boleh?

Aku terus merasa bahwa dilemma ini menjadikanku seseorang yang terus mencari pembenaran. Itu  yang mereka yakinkan  padaku.

Dikepalaku selalu terngiang bahwa aku ini wanita muslimah yang demokrasi, aku menunaikan kewajibanku dan aku melakukan apa yang menjadi hakku. Tapi mereka mengatakan itu salah dan keliru. Banyak pertentangan dalam diriku, bukan pada agamaku, tapi pada mereka yang  menyampaikan firman Tuhan dan  menghakimi diriku kafir. Aku harus bagaimana. Akupun tak mudah meninggalkan ini, walaupun aku pasti harus meninggalkan ini. Bagaimana jika hatiku menolak dan menjadi sakit jika dipaksakan seperti itu.

Mereka terus menghakimiku, atau mungkin hanya aku yang merasa terhakimi. Merasa terkekang. Senista itukah orang sepertiku? Tidak, aku tidak pernah menyalahkan agamaku, aku mencintai agamaku dan yakin setriliun persen bahwa agamaku adalah kebenaran  yang berasal dari Tuhan. Tapi aku sungguh tak ingin pemaksaan. Bukankah semua orang punya masa kelamnya? Dan belajar dari hal tersebut. Aku sedang dalam proses menuju itu, aku pasti akan menuju ke tahap itu. Tapi jika dipaksakan seperti ini sifat rasionalitasku akan membentengi hal tersebut dan membuatnya menjadi rumit. Membuat ku mencari berbagai alasan karena pada intinya belum siap sepenuhnya. Yang  mengalami hal ini  aku yakin bukan hanya diriku, diluar sana banyak yang sepertiku, ku mohon rangkul kami secara perlahan agar kami paham dan mengikuti jalan kebenaran. 
Halo sahabatku Aulia, jika kau membaca ini mungkin di percakapan kita via telpon atau medsos nanti harus kita kurangi membahas seberapa lucu dan bertalentanya oppa-oppa itu, walau mungkin tidak sepenuhnya musnah pembicaraan tersebut karena akan mengakibatkan komunikasi kita menjadi garing dan tak menarik  lagi, kita harus tetap mencoba menguranginya semampu kita. 


Wallahu’alam,. Insyaa Allah..Untuk teman-teman do’a kan kami yang ingin berhijrah…

Aku ingin membagikan lirik karya bts yang sangat memotivasiku..
Title : NO!



Sebuah rumah yang bagus, mobil bagus,
Akankah hal-hal ini membawa kebahagiaan?
Di Seoul ke langit, akankah orang tua merasa senang?

Impian menghilang,tidak ada waktu untuk beristirahat,
Siklus sekolah, rumah atau warnet
Semua orang menjalani kehidupan yang sama
Mahasiswa yang mendapat tekanan menjadi nomor satu diantara mimpi dan kenyataan

Siapakah yang membuat kita menjadi mesin belajar?
Mereka mengklasifikasikan kita baik menjadi nomor 1 atau di keluarkan
Mereka menjebak kita dalam perbatasan, orang dewasa
Tidak ada pilihan selain persetujuan
Bahkan jika kita berpikir sederhana
Itu adalah kelangsungan hidup yang sesuai
Siapa yang kamu pikir adalah salah satu yang membuat kita menginjak-
Bahkan teman-teman dekat kita untuk naik? Apa?!

Orang dewasa mengatakan kepadaku hanya sesaat
Untuk bertahan sedikit lagi, untuk melakukannya nanti

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll.  We roll (roll). We roll

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll

Sebuah rumah yang bagus, mobil bagus,
Akankah hal-hal ini membawa kebahagiaan?
Di Seoul ke langit, akankah orang tua merasa senang?

Aku ingin bermain dan makan, aku ingin merobek seragamku
Aku ingin menghasilkan uang, uang yang halal
Tapi mereka sudah melihatku miring
Rekening bank ku di block
Ketidakbahagiaan ku melewati batasnya
Sebuah pabrik mendesah sambil belajar, suatu siklus yang berkelanjutan

Orang-orang dewasa mengakui bahwa kita memiliki begitu kemudahan
Mereka mengatakan bahwa kita lebih bahagia daripada bagian kami,
Lalu bagaimana kamu menjelaskan ketidakbahagiaan diriku?
Tidak ada topik percakapan selain belajar
Diluar, ada begitu banyak anak-anak sepertiku,
Menjalani kehidupan boneka
Siapa yang akan bertanggung jawab?

Orang dewasa mengatakan kepadaku hanya sesaat
Untuk bertahan sedikit lagi, untuk melakukannya nanti

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll
Semuanya katakan tidak

Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak





About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman