BENCANA DI TANAH KAILI (SULTENG - PALU DONGGALA)
Assalamu’alaikum..
Mungkin
tulisan ini sedikit pahit, dengan napas tertahan aku berusaha menuliskannya
Ternyata
inilah yang dirasakan mereka yang ada di Lombok, Aceh, ataupun Yogyakarta
Walau
tak sepenuhnya kurasakan, tapi perasaannya begitu nyata
Innailillahiwainailaihirajiun.
Tanah lahir ku, tempat pulang yang selalu dirindu, tempat aman dan ternyaman.
Kini porak poranda. Sulawesi tengah.
Aku merantau. Gorontalo tepatnya. Berada sedikit aman dari tempat kejadian. Tapi perasaan shock dan seperti mimpi masih bersemayam dibenakku. Masih tidak percaya, kota palu sebegitu hancurnyal porak-poranda, luluh lantah, naudzubillah. Gempa 7,7 sr dan tsunami menghantam semuanya. Korban jiwa ribuan telah tercatat, yang membuatku tak berdaya, adakah sanak saudaraku salah satunya? rumah-rumah banyak yang hancur, bahkan hilang ditelan tanah yang mengeluarkan lumpurnya. Semua kebangaan dari kota kami, kini tak lagi berharga. Benar adanya, apa yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Semuanya kembali pada Allah. Malam kejadian, orang – orang bersuka cita menunggu pembukaan festival palu nomoni di pantai talise pantai wisata, sebagai perayaan hari ulangtahun kota, apa mau dikata sebelum resmi dibuka, tsunami lebih dahulu menghantam semuanya tak terkecuali manusianya. Lailahailallah. Semuanya berlari panik sembari berteriak meminta pertolonganNya, ada juga yang hanya bisa berserah diri karena tak lagi punya daya. Dan semuanya belum lah berakhir, selepas kejadian hingga hari ini aku menuliskan ini, gempa susulan sudah terhitung 200 kali lebih. Orang – orang dilanda trauma dan ketakutan luar biasa, semua berusaha untuk bertahan hidup bagaimanapun caranya. Komunikasi putus, tiang listrik tumbang hingga nyala padam, jalanan rusak terbelah, rumah – rumah tersisa hanya atapnya sja yang sudah rata dengan tanah, sedang manusia-manusia lain berada diketinggian dengan jantung berdetak ribuan kali lebih cepat, melihat luluh lantahnya kota palu dari atas sana sembari menangis dan memikirkan saudara ayah ibu dan teman-teman dimana?. Menjadi satu-satunya yang menyesal begitu spontannya ingin hidup dan tidak sempat memikirkan yang lainnya. Pun bantuan terlambat datang, Karena memang komunikasi tidak berjalan, orang – orang dengan terpaksa menjual kehormatannya demi bertahan hidup. Kasarnya adalah menjarah, mini market, toko, atm, dan sebagainya. Kita tak bisa menyalahkan mereka, duka mereka berbalut luka yang parah. Mereka sebelumnya tidak begitu, tapi mohon pahamilah. Mereka hanya ingin bertahan ditengah kondisi yang menginginkan mereka mati.
Aku merantau. Gorontalo tepatnya. Berada sedikit aman dari tempat kejadian. Tapi perasaan shock dan seperti mimpi masih bersemayam dibenakku. Masih tidak percaya, kota palu sebegitu hancurnyal porak-poranda, luluh lantah, naudzubillah. Gempa 7,7 sr dan tsunami menghantam semuanya. Korban jiwa ribuan telah tercatat, yang membuatku tak berdaya, adakah sanak saudaraku salah satunya? rumah-rumah banyak yang hancur, bahkan hilang ditelan tanah yang mengeluarkan lumpurnya. Semua kebangaan dari kota kami, kini tak lagi berharga. Benar adanya, apa yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Semuanya kembali pada Allah. Malam kejadian, orang – orang bersuka cita menunggu pembukaan festival palu nomoni di pantai talise pantai wisata, sebagai perayaan hari ulangtahun kota, apa mau dikata sebelum resmi dibuka, tsunami lebih dahulu menghantam semuanya tak terkecuali manusianya. Lailahailallah. Semuanya berlari panik sembari berteriak meminta pertolonganNya, ada juga yang hanya bisa berserah diri karena tak lagi punya daya. Dan semuanya belum lah berakhir, selepas kejadian hingga hari ini aku menuliskan ini, gempa susulan sudah terhitung 200 kali lebih. Orang – orang dilanda trauma dan ketakutan luar biasa, semua berusaha untuk bertahan hidup bagaimanapun caranya. Komunikasi putus, tiang listrik tumbang hingga nyala padam, jalanan rusak terbelah, rumah – rumah tersisa hanya atapnya sja yang sudah rata dengan tanah, sedang manusia-manusia lain berada diketinggian dengan jantung berdetak ribuan kali lebih cepat, melihat luluh lantahnya kota palu dari atas sana sembari menangis dan memikirkan saudara ayah ibu dan teman-teman dimana?. Menjadi satu-satunya yang menyesal begitu spontannya ingin hidup dan tidak sempat memikirkan yang lainnya. Pun bantuan terlambat datang, Karena memang komunikasi tidak berjalan, orang – orang dengan terpaksa menjual kehormatannya demi bertahan hidup. Kasarnya adalah menjarah, mini market, toko, atm, dan sebagainya. Kita tak bisa menyalahkan mereka, duka mereka berbalut luka yang parah. Mereka sebelumnya tidak begitu, tapi mohon pahamilah. Mereka hanya ingin bertahan ditengah kondisi yang menginginkan mereka mati.
Dan
akhirnya, mereka tak tahan lagi. Gempa susulan yang tak pernah ada ujungnya,
bau mayat yang belum juga di evakuasi, wajah kota yang kini rata, membuat
psikis mereka semakin menggila. Mereka ingin keluar dari sana. Mereka ingin
meninggalkan palu yang tak lagi menjaga. Cinta memang cinta, tapi mereka merasa
tak mampu lagi bertahan jika terus disana.
Sedang
aku, duduk diam dan menggila dengan pikiran – pikiran yang melayang jauh entah
kemana. Air mata jatuh pelan – pelan hingga membuncah. Sepupuku, tanteku,
hampir semua teman – temanku ada di Palu sana. Gemetar tangan menunggu kabar,
bergerak cepat jemari mencari kepastian mereka satu persatu. Alhamdulillah
beberapa baik-baik saja, tetapi yang lainnya belum tau dimana. Hingga satu
kabar aku dengar, indah sahabatku yang sempat mengabari keadaannya berkata
bahwa ia sedang sendiri di malam kejadian, berada di ketinggian yang entah
dimana, terpisah dengan kakanya, dan setelah beberapa hari berlalu kakanya
dinyatakan telah menjadi korban meninggal akibat terseret tsunami. Hancur aku
rasa, air mataku jatuh dan terisak berat. Begitu besar ujian ini, ku teriakkan
dalam hatiku. Kakaknya indah adalah teman terbaik untuknya, yang selalu menjaga
rumah dan keluarga ketika indah merantau kuliah. Kini, dengan menangis ia
berkata sungguh berat beban yang harus ditanggunggnya untuk menggantikan
kakaknya. Dia sudah kehilangan optimisme hidup. Dia hancur. Dan aku turut
hancur mendengarnya. Tetapi segala puji bagi Allah, karena Allah dia masih
berusaha bangkit. Benar Allah adalah penguat bagi jiwa yang putus asa.
Begitu
dalam duka. Begitu parah luka.
Kirimkan
do’a untuk Sulawesi Tengah, semoga kami bisa bangkit lagi dan pulih sepenuhnya.
Gorontalo,
29 september 2018
Selvi
A. Ahmad . Anak dari Sulawesi Tengah
Foto Bencana Palu







