Better~ karya Atul Gawande
Inilah dia salah satu buku yang berpengaruh terhadap
pandangan hidupku. Terhadap persepsiku pada mimpiku yang ‘sulit menjadi
kenyataan’. Iya benar. Dokter Bedah adalah mimpi terbesar dalam hidupku. Antara
harapan dan keinginan selalu berbanding lurus. namun berbanding terbalik dengan
kenyataan. Sulit juga tidak. Tetapi tidak mudah untuk meraihnya. Entahlah, kurang
lebih 17 hari lagi akan aku lihat dan saksikan apakah mimpi itu akan menjadi
kenyataan atau tidak (17 hari lagi UN akan dilaksanakan). Sejauh ini aku sedang
berusaha, tetapi aku tidak yakin usaha akan membantuku. Dr. Gawande. Seorang
dokter bedah yang lahir di india, dan menjadi assisten profesor di Harvard
Medical school dan Harvard School of public health. Didalam buku berjudul
better ini, terdapat berbagai macam riset, opini, reality seputar dunia
kedokteran. Suatu profesi yang selalu menjadi impianku. Dikala terjaga maupun
tertidur. Jika ada kesempatan bahkan hanya satu kali jalan untuk meraih profesi
tersebut tak akan sedetikpun ku sia-siakan, begitulah janjiku. Better mengubah
pandangan hidupku. Better make me a more better. Better memberiku kisah,
pengalaman kerja, fakta, realita, dan segala hal yang sebelumnya tak ku
ketahui. Bagian yang paling ku sukai didalam buku ini adalah kisah keterlibatan
dokter pada kasus hukuman mati. Dimana dokter mengambil peran penting dalam
membantu terlaksananya hukuman mati. Ambigu, iya memang. Dimana pekerjaan dan
Kode Etik berlawanan. Jika dokter membantu, maka hilanglah sudah kepercayaan
masyarakat bahwa dokter adalah penyelamat dan berubah menjadi sebutan sadis ‘pembunuh’.
Pembunuh? Pemikiran itu ada dibeberapa masyarakat yang baru pertama kali
mendengar dokter terlibat dalam proses hukuman mati. Tetapi jauh dari yang kelihatan,
ada alasan untuk setiap langkah. Bukan saya membenarkan hal ini, sayapun kecewa
jika pemerintah melibatkan dokter sebuah profesi paling mulia dalam proses yang
kejam ini. Namun, jika tak ada ahli dalam pelaksanaan terhukum mati (Suntik
mati menggunakan Natrium tiopental) maka terhukum yang sebenarnya adalah
manusia juga makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna akan begitu terasa
menyedihkan. Penderitaan yang mereka alami, akan bertambah dan sangatlah
menyakitkan. Tidakkah kita punya nurani? Entahlah bagaimana pemikiran orang
lainnya. Yang jelas ini hanyalah persepsi saya. Kembali bercerita tentang mimpi
saya yang menyedihkan ini. Saya berpikir seorang Dokter bedah umum adalah
profesi yang paling begitu menarik. Beberapa tahun yang lalu saya hidup dalam pemikiran
seperti ini. Tetapi BETTER memperbaiki persepsi saya. Didalam better saya tahu
bahwa masalah besar yang dihadapi dalam suatu profesi utamanya dokter bedah
bukanlah kerja keras yang tak henti-hentinya sepanjang malam, bukanlah kesalahan-kesalahan
dalam melakukan profesi (biasa disebu malapraktik), ataupun bayaran yang tak
sesuai dengan hasil jerih payah. Bukan! Dari Better saya tahu masalah terbesar
itu adalah mengetahui sebatas mana kemampuan kita dalam melakukan pekerjaan
kita. Haruskah kita memaksakan apa yang sesuatu yg telah melewati batas
kemampuan dan kesanggupan kita? Atau kita menyerah, padahal kemampuan kita bisa
melakukan hal yang lebih dari apa yang kita lakukan sekarang. Itulah masalah
terbesar dalam kedokteran, tidak tahu dimana batas kemampuan untuk melakukan
sesuatu. Dalam better juga saya belajar bahwa dalam kedokteran seharusnya kita
tidak mempercayai siapapun, kita harus mempercayai diri kita sendiri tak ada
kata bergantung pada orang lain. Kita harus bergantung pada kemampuan kita sendiri.
Banyak hal yang telah saya pelajari dari buku ini. Banyak dan tak terhitung
jumlahnya. Sekarang saya akan berpikir lebih matang lagi, apakah saya pantas
menjadi salah satu dari bagian profesi yang begitu mulia namun menghawatirkan
ini. Sekiranya saya selalu ingat kata bijak, “ You are what do you think”, and
I think I can do it!. Profesi ini ibarat berada diatas lereng yang curam, lalu
didepan kita adalah jurang terjal nan tajam. Sekali kau melakukan kesalahan kau
akan jatuh dalam jurang penyesalan, penderitaan, cemoohan, penuntutan, dan
berbagai macam hal yang merusak nama baik, keluarga, harga diri, martabat, dan
kepercayaan, Dokter bedah, profesi yang ibarat nyawa manusia ada dalam
Genggaman Tuhan dan tangannya. Pisau bedahnya adalah penghilang penderitaan
sekaligus dapat membawa petaka kematian. Ditangabn orang yang tepat pisau bedah
itu akan menyelamatkan beribu-ribu nyawa berharga untuk dunia. Nyawa generasi
muda, nyawa para pembela kebenaran, nyawa seorang ibu yang berharga dalam
mencetak generasi pembawa panji kedamaian. Terima kasih untuk Dr. Atul Gawande
untuk kerja keras yang telah dokter lakukan, terimakasih karena telah memberiku secercah harapan dan banyak
pengetahuan. Selamat bekerja dan selamat sukses untuk seluruh dokter dunia
terutama dokter bedah! I love you very much!

0 komentar:
Posting Komentar