Jumat, 27 Maret 2015

Better~ karya Atul Gawande


Inilah dia salah satu buku yang berpengaruh terhadap pandangan hidupku. Terhadap persepsiku pada mimpiku yang ‘sulit menjadi kenyataan’. Iya benar. Dokter Bedah adalah mimpi terbesar dalam hidupku. Antara harapan dan keinginan selalu berbanding lurus. namun berbanding terbalik dengan kenyataan. Sulit juga tidak. Tetapi tidak mudah untuk meraihnya. Entahlah, kurang lebih 17 hari lagi akan aku lihat dan saksikan apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan atau tidak (17 hari lagi UN akan dilaksanakan). Sejauh ini aku sedang berusaha, tetapi aku tidak yakin usaha akan membantuku. Dr. Gawande. Seorang dokter bedah yang lahir di india, dan menjadi assisten profesor di Harvard Medical school dan Harvard School of public health. Didalam buku berjudul better ini, terdapat berbagai macam riset, opini, reality seputar dunia kedokteran. Suatu profesi yang selalu menjadi impianku. Dikala terjaga maupun tertidur. Jika ada kesempatan bahkan hanya satu kali jalan untuk meraih profesi tersebut tak akan sedetikpun ku sia-siakan, begitulah janjiku. Better mengubah pandangan hidupku. Better make me a more better. Better memberiku kisah, pengalaman kerja, fakta, realita, dan segala hal yang sebelumnya tak ku ketahui. Bagian yang paling ku sukai didalam buku ini adalah kisah keterlibatan dokter pada kasus hukuman mati. Dimana dokter mengambil peran penting dalam membantu terlaksananya hukuman mati. Ambigu, iya memang. Dimana pekerjaan dan Kode Etik berlawanan. Jika dokter membantu, maka hilanglah sudah kepercayaan masyarakat bahwa dokter adalah penyelamat dan berubah menjadi sebutan sadis ‘pembunuh’. Pembunuh? Pemikiran itu ada dibeberapa masyarakat yang baru pertama kali mendengar dokter terlibat dalam proses hukuman mati. Tetapi jauh dari yang kelihatan, ada alasan untuk setiap langkah. Bukan saya membenarkan hal ini, sayapun kecewa jika pemerintah melibatkan dokter sebuah profesi paling mulia dalam proses yang kejam ini. Namun, jika tak ada ahli dalam pelaksanaan terhukum mati (Suntik mati menggunakan Natrium tiopental) maka terhukum yang sebenarnya adalah manusia juga makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna akan begitu terasa menyedihkan. Penderitaan yang mereka alami, akan bertambah dan sangatlah menyakitkan. Tidakkah kita punya nurani? Entahlah bagaimana pemikiran orang lainnya. Yang jelas ini hanyalah persepsi saya. Kembali bercerita tentang mimpi saya yang menyedihkan ini. Saya berpikir seorang Dokter bedah umum adalah profesi yang paling begitu menarik. Beberapa tahun yang lalu saya hidup dalam pemikiran seperti ini. Tetapi BETTER memperbaiki persepsi saya. Didalam better saya tahu bahwa masalah besar yang dihadapi dalam suatu profesi utamanya dokter bedah bukanlah kerja keras yang tak henti-hentinya sepanjang malam, bukanlah kesalahan-kesalahan dalam melakukan profesi (biasa disebu malapraktik), ataupun bayaran yang tak sesuai dengan hasil jerih payah. Bukan! Dari Better saya tahu masalah terbesar itu adalah mengetahui sebatas mana kemampuan kita dalam melakukan pekerjaan kita. Haruskah kita memaksakan apa yang sesuatu yg telah melewati batas kemampuan dan kesanggupan kita? Atau kita menyerah, padahal kemampuan kita bisa melakukan hal yang lebih dari apa yang kita lakukan sekarang. Itulah masalah terbesar dalam kedokteran, tidak tahu dimana batas kemampuan untuk melakukan sesuatu. Dalam better juga saya belajar bahwa dalam kedokteran seharusnya kita tidak mempercayai siapapun, kita harus mempercayai diri kita sendiri tak ada kata bergantung pada orang lain. Kita harus bergantung pada kemampuan kita sendiri. Banyak hal yang telah saya pelajari dari buku ini. Banyak dan tak terhitung jumlahnya. Sekarang saya akan berpikir lebih matang lagi, apakah saya pantas menjadi salah satu dari bagian profesi yang begitu mulia namun menghawatirkan ini. Sekiranya saya selalu ingat kata bijak, “ You are what do you think”, and I think I can do it!. Profesi ini ibarat berada diatas lereng yang curam, lalu didepan kita adalah jurang terjal nan tajam. Sekali kau melakukan kesalahan kau akan jatuh dalam jurang penyesalan, penderitaan, cemoohan, penuntutan, dan berbagai macam hal yang merusak nama baik, keluarga, harga diri, martabat, dan kepercayaan, Dokter bedah, profesi yang ibarat nyawa manusia ada dalam Genggaman Tuhan dan tangannya. Pisau bedahnya adalah penghilang penderitaan sekaligus dapat membawa petaka kematian. Ditangabn orang yang tepat pisau bedah itu akan menyelamatkan beribu-ribu nyawa berharga untuk dunia. Nyawa generasi muda, nyawa para pembela kebenaran, nyawa seorang ibu yang berharga dalam mencetak generasi pembawa panji kedamaian. Terima kasih untuk Dr. Atul Gawande untuk kerja keras yang telah dokter lakukan, terimakasih karena  telah memberiku secercah harapan dan banyak pengetahuan. Selamat bekerja dan selamat sukses untuk seluruh dokter dunia terutama dokter bedah! I love you very much!

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman