Buol Kopunuku : Biarkan yang “Terpilih” Naik dengan Elegan (Edisi Pesta Demokrasi 1)
Masa itu sudah lewat. Perbaruan terjadi kembali..
Pertanyaannya adalah akankah sekarang akan lebih baik dari kemarin atau
sebaliknya? Sebagai seorang warga Buol yang demokratis dan berpendidikan, saya
mengerti dan mencoba lebih dalam untuk memahami makna dari proses. Berfikir
positif, saya tahu hal tersebut tidak hanya akan memberikan dampak pada saya
individu tetapi juga pada orang disekitar saya. Mempercayai pemimpin adalah
kunci keberhasilan suatu daerah dalam tujuan bersama. Mempercayai bahwa figure
yang terpilih adalah sosok terbaik yang menjadi pegangan masyarakat. Pada sosok
terpilih ini, saya sangat berharap satu hal (saya akan sampaikan nanti pada Edisi kedua), walaupun saya tahu berharap adalah
pekerjaan yang melelahkan. Namun, sebagai masyarakat sudah sepatutnya saya
mempunyai harapan yang inginnya diwujudkan oleh pemimpin saya. Saya sudah lama
ingin menuliskan ini, dan saya telah berfikir banyak hal sebelumnya. Ada banyak
yang saya soroti. Hal pertama adalah, betapa menyedihkannya ketika melihat pesta
demokrasi menjadi ajang untuk membangun kelompok - kelompok yang saling
menjatuhkan. Didunia maya saya banyak membaca postingan – postingan yang banyak
membuat saya miris, dan jujur saja saya adalah silent reader. Saya tidak ambil
bagian dari hal – hal tersebut, karena saya pikir, turut ikut campur dalam
perbincangan yang terlihat seperti perdebatan tanpa ujung hanya membuang –
buang waktu saja. Tidak jelas siapa, kemana arah yang dituju, ada yang memaki,
ada yang mengumpat, ada yang mencela, ada yang menengah, ada yang kekiri, ada yang kekanan, ada
yang dan ada yang lainnya. Debat kusir mungkin sebutannya. Toh yang
diperdebatkan mungkin sedang dirumah sedang duduk santai dengan segelas kopi
ditangannya. Mereka memperdebatkan figure yang ini, figure yang itu. Semua
mencari kelemahan masing2 sosok untuk menjadi perbincangan yang menarik.
Ayolah, bukankah itu namanya memperbincangkan aib orang. Memperdebatkan visi,
program tidaklah menjadi sebuah dosa, namun itu hal yang baik, artinya masyarakat
kritis terhadap upaya apa yang dilakukan untuk tujuan kedepan. Namun,
memperdebatkan kondisi personal figure, apalagi telah masuk ke kehidupannya
lebih dalam sungguh tidak baik. Bukankah membuka aib seseorang sama seperti
memakan bangkai saudara sendiri? Itu firman Al-qur’an loh. Oke, kita tahu
tentang aib tersebut. Haruskah kita mengumumkannya pada semua orang?. Yang herannya adalah orang – orang tersebut
sebagian orang – orang yang intelektual. Punya title, punya gelar. Jika begini
dimanakah letak perbedaan antara mereka yang berpendidikan dan yang tidak.
Berkata sesuka hati, meninggi – ninggikan figure yang didukung. Yowes, meninggi – ninggikan, saya tahu benar bahwa
hal itu tidak mengapa. Tapi jika hal tersebut diikuti dengan merendahkan figure
yang lain bukankah itu keterlaluan? Merendahkan
sekaligus penghinaan lebih sangat keterlaluan. Ibarat orang yang ingin menjadi
selebritis, haruskah menginjak orang lain dulu barulah bisa terkenal?. Ya
sensasi sebutannya.
Saya miris melihat ketika adu mulut terjadi hanya untuk
memperlihatkan siapa yang paling terbaik. Bukankah masyarakat itu punya mata,
telinga, akal, dan hati untuk dapat melihat siapakah yang layak menurut versi
mereka sendiri tanpa ada intervensi dari pihak lain?. Bapak-bapak, ibu-ibu,
saudara-saudara koponuku. Mengapa kita tidak membiarkan figure terpilih, naik
ke kursi puncak pemerintahan kabupaten Buol, melangkah dengan elegan? Tanpa
harus merendahkan yang tidak terpilih. Bukankah beliau-beliau yang tidak
terpilih juga merupakan orang yang telah berkorban banyak untuk memajukan
kabupaten Buol. Mungkin akan ada suara sumbang yang berkata seperti ini : “Kau
tau darimana kalo dia pe niat itu mo kase maju Buol? Dalam hatinya orang siapa
yang tau.” Ya benar. Karena ‘dalam hatinya orang tidak ada yang tahu ‘selain
Allah swt’, maka dari itu tidak seharusnya kita menjudge orang tersebut. Jika
saya balik pertanyaannya ; “kau tau darimana juga kalo dia pe niat itu tidak
bae, tarulah hanya mo pentingkan dirinya. Kau tau darimana ttg itu? Hatinya
orang siapa yang tau.” Hihi.
Saudara koponuku, sekali lagi kukatakan. Biarkan
sosok terpilih naik dengan elegan. Naik dengan tanpa melukai perasaan orang.
Bukankah indah dipandang jika semua figure yang belum terpilih membantu figure
yang terpilih untuk memajukan kabupaten kita yang belum tercium aroma – aroma
sedapnya. Betapa indah memandang kedamaian tersebut. Semoga saja bukan mimpi di
siang bolong. Oh ya. Pada pesta demokrasi ini saya tidak menyumbangkan suara.
Karena terhalang oleh jarak dan kondisi yang tidak memungkinkan. Walaupun
dengan golputnya saya, banyak yang berkata sinis ini dan itu. Namun prinsip
saya adalah “Bahkan tidak memilihpun juga merupakan sebuah pilihan”. Terlebih
lagi, saya harus memprioritaskan pendidikan saya. Terlepas dari itu semua, saya
juga sedikit menyesal Karena tidak dapat menggunakan hak pilih saya untuk
pertama kalinya.
Tamang, saya tidak mencoba untuk memperlihatkan saya
memihak pada siapa. Sekali lagi saya katakan. Kondisi yang membuat saya golput.
Artinya jemari saya tidak menancapkan pilihan pada siapapun. Dan tanggung jawab
saya adalah menjaga kenetralan saya. Ke-golputan tersebut harus dibarengi dengan
sikap netral. Walaupun sekali lagi, saya tidak menginginkan golput, saya wajib
memilih, dan ingin memilih. Namun, semua sudah terjadi, yang harus saya lakukan
adalah menjaga kenetralan tersebut. Mendukung semua figure yang ada. Mendo’akan
semoga yang terpilih, dapat memegang amanah dari masyarakat.
Saudara kosayangu, dengarlah ini : “Majulah tanpa
menyingkirkan orang lain. Naiklah tanpa menjatuhkan orang lain. Bahagialah
tanpa melukai orang. Menang kalah adalah nilai mutlak. Tapi hal tersebut tidak
bisa menjadikan alasan untuk dapat membuat orang lain merasa terinjak.”
Sukses untuk kampung halamanku
Salam damai
dari rantauan
Selvi A. Ahmad

0 komentar:
Posting Komentar