Buol Koponuku : Halaman Belakang yang belum Terselesaikan! (Edisi Pesta Demokrasi Part. 2)
Assalamu'alaikum.
Kodoyo habar utat - utat tandanio ?
Semoga baik - baik saja yah.
Btw, sebelumnya
saya pernah menyebutkan satu harapan saya dipostingan sebelumnya. Ga muluk –
muluk sih, namun masalah ini masih menjadi momok didalam pikiran saya. Terus
mengusik, waktu santai saya. Yaitu pengharapan saya akan perbaikan daerah pesisir pantai yang kurang
diperhatikan pemerintah. Masalah terbesar di pesisir pantai Buol adalah Pantai
yang menjadi TPA (Tempat pembuangan akhir) dan Jamban terpanjang se-sulawesi
mungkin (?). Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, masyarakat Kab. Buol. Mengapa sampai sekarang
belum ada lirikan dari pemerintah untuk mencoba mengatasi permasalahan
tersebut?. Saya tahu dari mana hal itu? Saya anak pesisir, asal sodara tahu.
Analoginya
seperti ini. Tidak elok rasanya, saat
kita hanya terfokus untuk menyapu dan menata halaman depan, agar orang melihat
betapa indahnya rumah kita, betapa cantik dan rapinya, namun halaman belakang
berantakan seperti gudang yang tak ada artinya. Indahnya jangan hanya didepan sajalah,
bapak ibu pemerintah. Sekali-kali tengoklah belakang rumah, tidak khawatirkah
jika nanti halaman belakang yang berantakan tersebut ditinggali sekawanan hewan
berbahaya yang suatu saat akan meyerang pemilik rumah? Atau menjadi sarang yang
lama kelamaan mengeluarkan bau busuk dan menganggu tuan rumah?. Permasalahan
sampah dan jamban sangatlah kompleks pakbu. Sangat! Lihatlah, anak – anak kecil
itu, anak – anak kecil kita, bermain dengan riang tanpa tahu betapa terancamnya
kesehatan mereka bermain didaerah kotor yang banyak sumber penyakitnya. Mereka
tidak tahu itu bapak ibu, mereka tidak tahu bahwa tanah dan pasir yang mereka injak, mereka mainkan sudah tercemar akan kotoran - kotoran manusia, yang mereka tahu hanyalah bahwa pantai merupakan tempat yang
asyik untuk berkumpul dengan teman - teman sebaya.
Problem selanjutnya adalah fakta bahwa Pantai Buol merupakan rumah bagi para nelayan. Namun, masalah Abrasmasih belum mendapatkan solusi yang tepat. Setiap musim pasang para penduduk
pesisir merasakan ancaman bahaya bahwa sewaktu – waktu rumah panggung mereka
akan dihanyutkan oleh air. Tidur tak tenang, makanpun tak enak. Sekali saja
pak/bu, tempatkan diri diposisi mereka, dan rasakan betapa hidup ini bagaikan berdiri
ditebing yang curam. Mungkin solusi yang pernah ditawarkan adalah memindahkan
mereka ketempat yang lebih nyaman. Lebih nyaman menurut siapa yang bapak ibu
maksud? Nyaman versi bapak ibu beda dengan nyaman versi mereka. Cobalah tengok,
rumah yang ditawarkan ibu bapak, sangat jauh dari tempat untuk mata pencarian mereka.
Mereka lebih baik mati terbawa air dibanding harus mati melihat anak – anak
mereka tidak bisa mendapatkan makan. Hanya itukah solusinya? Cobalah solusi
yang lain. Mereka adalah orang yang membuat bapak ibu berada diposisi sekarang
ini. Setidaknya ingat akan itu bapak ibu yang terhormat, entah siapapun yang
akan menjadi pempimpin Buol selanjutnya.Saya yakin dan percaya bahwa didunia tidak ada yang tidak bisa diselesaikan. Semuanya pasti ada solusi terbaiknya. Bapak Ibu lah yang diberikan amanah untuk memecahkan problem ini.
Saya
berharap yang terbaik untuk kabupaten Buol koponuku. Saya tidak hendak untuk
menyalahkan siapa-siapa, saya hanya ingin bapak ibu yang terhormat tahu tentang
masyarakat yang terpinggirkan ini. Saya juga mengapresiasi solusi yang telah
dilakukan, namun saya mengharapakan solusi lain, karena solusi yang telah lalu,
tidak cukup membuat perubahan yang berarti bagi masyarakat pesisir. Bukan tidak
bagus solusinya, hanya saja kurang efektif menurut pribadi saya, sebagai orang yang
merasakan langsung dan melihat langsung, bagaimana tetangga saya harus mengalami hal – hal yang cukup
menyedihkan yang terlalu sering seperti ini.
Quotes saya pada kali ini :
"Ayolah, pakbu. Janganlah hanya sibuk
menyapu halaman depan. Cobalah Tengok sedikit kehalaman belakang".
Salam rindu, dariku anak Pesisir Buol yang berada di
rantauan.
Gorontalo, 24-02-2017
Selvi A. Ahmad

0 komentar:
Posting Komentar