Kamis, 23 Februari 2017

Buol Koponuku : Halaman Belakang yang belum Terselesaikan! (Edisi Pesta Demokrasi Part. 2)




   Assalamu'alaikum. 
Kodoyo habar utat - utat tandanio ?
Semoga baik - baik saja yah.
Btw, sebelumnya saya pernah menyebutkan satu harapan saya dipostingan sebelumnya. Ga muluk – muluk sih, namun masalah ini masih menjadi momok didalam pikiran saya. Terus mengusik, waktu santai saya. Yaitu pengharapan saya akan perbaikan daerah pesisir pantai yang kurang diperhatikan pemerintah. Masalah terbesar di pesisir pantai Buol adalah Pantai yang menjadi TPA (Tempat pembuangan akhir) dan Jamban terpanjang se-sulawesi mungkin (?). Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, masyarakat Kab. Buol. Mengapa sampai sekarang belum ada lirikan dari pemerintah untuk mencoba mengatasi permasalahan tersebut?. Saya tahu dari mana hal itu? Saya anak pesisir, asal sodara tahu.

Analoginya seperti ini.  Tidak elok rasanya, saat kita hanya terfokus untuk menyapu dan menata halaman depan, agar orang melihat betapa indahnya rumah kita, betapa cantik dan rapinya, namun halaman belakang berantakan seperti gudang yang tak ada artinya. Indahnya jangan hanya didepan sajalah, bapak ibu pemerintah. Sekali-kali tengoklah belakang rumah, tidak khawatirkah jika nanti halaman belakang yang berantakan tersebut ditinggali sekawanan hewan berbahaya yang suatu saat akan meyerang pemilik rumah? Atau menjadi sarang yang lama kelamaan mengeluarkan bau busuk dan menganggu tuan rumah?. Permasalahan sampah dan jamban sangatlah kompleks pakbu. Sangat! Lihatlah, anak – anak kecil itu, anak – anak kecil kita, bermain dengan riang tanpa tahu betapa terancamnya kesehatan mereka bermain didaerah kotor yang banyak sumber penyakitnya. Mereka tidak tahu itu bapak ibu, mereka tidak tahu bahwa tanah dan pasir yang mereka injak, mereka mainkan sudah tercemar akan kotoran - kotoran manusia, yang mereka tahu hanyalah bahwa pantai merupakan tempat yang asyik untuk berkumpul dengan teman - teman sebaya.

Problem selanjutnya adalah fakta bahwa Pantai Buol merupakan rumah bagi para nelayan. Namun, masalah  Abrasmasih belum mendapatkan solusi yang tepat. Setiap musim pasang para penduduk pesisir merasakan ancaman bahaya bahwa sewaktu – waktu rumah panggung mereka akan dihanyutkan oleh air. Tidur tak tenang, makanpun tak enak. Sekali saja pak/bu, tempatkan diri diposisi mereka, dan rasakan betapa hidup ini bagaikan berdiri ditebing yang curam. Mungkin solusi yang pernah ditawarkan adalah memindahkan mereka ketempat yang lebih nyaman. Lebih nyaman menurut siapa yang bapak ibu maksud? Nyaman versi bapak ibu beda dengan nyaman versi mereka. Cobalah tengok, rumah yang ditawarkan ibu bapak, sangat jauh dari tempat untuk mata pencarian mereka. Mereka lebih baik mati terbawa air dibanding harus mati melihat anak – anak mereka tidak bisa mendapatkan makan. Hanya itukah solusinya? Cobalah solusi yang lain. Mereka adalah orang yang membuat bapak ibu berada diposisi sekarang ini. Setidaknya ingat akan itu bapak ibu yang terhormat, entah siapapun yang akan menjadi pempimpin Buol selanjutnya.Saya yakin dan percaya bahwa didunia tidak ada yang tidak bisa diselesaikan. Semuanya pasti ada solusi terbaiknya. Bapak Ibu lah yang diberikan amanah untuk memecahkan problem ini.

Saya berharap yang terbaik untuk kabupaten Buol koponuku. Saya tidak hendak untuk menyalahkan siapa-siapa, saya hanya ingin bapak ibu yang terhormat tahu tentang masyarakat yang terpinggirkan ini. Saya juga mengapresiasi solusi yang telah dilakukan, namun saya mengharapakan solusi lain, karena solusi yang telah lalu, tidak cukup membuat perubahan yang berarti bagi masyarakat pesisir. Bukan tidak bagus solusinya, hanya saja kurang efektif menurut pribadi saya, sebagai orang yang merasakan langsung dan melihat langsung, bagaimana tetangga saya harus mengalami hal – hal yang cukup menyedihkan yang terlalu sering seperti ini.

Quotes saya pada kali ini :
"Ayolah, pakbu. Janganlah hanya sibuk menyapu halaman depan. Cobalah Tengok sedikit kehalaman belakang".




Salam rindu, dariku anak Pesisir Buol yang berada di rantauan.
Gorontalo, 24-02-2017


Selvi A. Ahmad
 

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman