Jumat, 18 Maret 2016

The Question for God ; WHY?? (Selvi A. Ahmad)


“WHY??”

Mengapa? Itu pertanyaan saya. Pertanyaan yang terus mengusik saya. Jawabannya ada dan banyak tapi tidak mampu memuaskan diri saya. Pertanyaan yang muncul ketika kebaikan dari dua insan bernama “orangtua” itu saya terima. Pertanyaan yang seharusnya tidak saya tanyakan. Pertanyaan yang sebenarnya mudah tapi saya tetap tidak mengerti akan jawabannya. Pertanyaan yang saya inginkan Tuhan yang menjawabnya sendiri. Sederhana. Hanya pertanyaan seperti ini :”Why our lord creature of parents?”. Haa what it is? Yes. It’s the fool question. But, really I always ask for it. Jika ingin mengetahui apa latar belakang dari pertanyaan saya itu, seperti ini : Saya benar-benar tidak mengerti mengapa Tuhan menciptakan yang namanya orangtua. Orangtua disini bukan hanya sekedar “Ayah dan ibu dari anak-anak” atau “Ayah dan Ibu yang membesarkan anak-anak.” Tapi arah saya mengarah pada “Orangtua yang membanting-tulang, bekerja keras siang dan malam, kurang tidur, rela menahan seluruh keinginannya untuk merasakan kemewahan, menggunakan pakaian mahal, merasakan bagaimana rasanya berkendaran mewah dan berumahkan istana, hanya demi apa? Masa depan anak mereka. Hey dunia apa ini? Mereka menahan seluruh keinginan mereka, memaksakan diri mereka, bekerja hingga kesakitan menghampiri mereka, demi apa? Masa depan anak-anak mereka. Bukan masa depan atau kesenangan mereka sendiri. Ini loh salah satu kajaiban dunia menurut saya. Dan yang lebih mengesankan lagi, mereka tahu bahwa mereka bekerja banting tulang demi anak-anak mereka yang nantinya jika sukses pasti dan saya yakin 100% perlahan menjauh dari mereka. Yah lihat saja diluar sana berapa banyak anak-anak yang ketika mereka sukses apalagi jika mereka sudah berkeluarga mereka merawat menjaga menafkahi memberi waktu untuk membayar seluruh jerih payah dan usaha mati-matian orang tua mereka? Berapa banyak? Bahkan 50% itu terlalu banyak. Berapa banyak anak-anak yang ketika sukses berterimakasih kepada orangtuanya? Miris! Ini mengapa pertanyaan saya muncul. Kok bisa Tuhan kau ciptakan sepasang insan bernama “Orangtua?”, walaupun saya sangat-sangat bersyukur dari hati dan jiwa raga saya karena saya sadar akan kerja keras mereka, tapi saya rasanya ingin mengahancurkan langit ketika melihat orangtua-orangtua yang diperlakukan buruk oleh anak-anaknya. Saya rapuh ketika harus bertanya pada Tuhan mengapa kau ciptakan dunia sekejam ini? Dan saya benci ketika saya harus bertanya seperti itu apalagi kepada Tuhan! Maafkan saya Tuhan. Saya hanya ingin bertanya “mengapa?”.
Ini loh orangtua, mereka bekerja keras, ya Allah tak sanggup saya membayangkan sekeras apa kerja keras mereka untuk anak-anak mereka. Terutama untuk papa dan mama cinta kasihku. Serasa ingin berhenti saya membebani mereka. Saya ingin tidak melanjutkan kuliah saya karena melihat betapa diusia senja, yang usia seharusnya bersantai menikmati peralihan detik demi detik, yang harusnya mereka bersandar dikursi istirahat mereka, seharusnya mereka tidur dalam keadaan mimpi bahagia, yang seharusnya mereka menhabiskan waktu liburan bersama, makan enak bersama, berkendaraan mewah, berumahkan megah, berpakaian mahal. Tapi mereka tahan dan mereka disibukkan oleh anak yang nantinya tidak akan mampu membayar seluruh pengorbanan mereka! bersandar dikursi istirahat ? itu keinginan yang tak pernah ada dalam benak mereka, tidur dalam keadaan mimpi bahagia? Jangan bermimpi untuk menutup mata saja mereka terlalu sulit karena memikirkan keadaan anak-anak mereka, liburan bersama, makan enak bersama? Ayolah aku tahu dengan persis mereka tak pernah membayangkannya,, berumahkan megah? Itu apalagi, Berpakaian mahal? Bahkan mungkin celana sepotong saja mereka berusaha untuk menahannya hanya karena alasan hemat, hemat untuk jaga-jaga ketika nanti ada keperluan yang harus disediakan untuk anak-anaknya.  Ini loh mereka yang namanya orangtua. Dua insan yang berinvestasi, yang mereka tau mereka berinvestasi ini bukan unutk kesenangan mereka. Apalagi yang mereka investasikan itu bukan hanya uang, barang, harta, tapi mereka menginvestasikan hidup mereka, mereka menginvestasikan waktu mereka. Apakah yang lebih mahal didunia ini selain waktu? Bahkan uang tak mampu membeli waktu! Mengapa Tuhan? Mengapa kau menciptakan orangtua yang anak-anaknya nanti akan berpaling menjauh dari mereka, yang anak-anaknya nanti akan memberikan hasil investasi mereka bukan pada orangtua tapi pada diri mereka sendiri menikmati sendiri dan menghabiskannya sendiri. Ini dunia yang menarik ataukah kejam?!
Dari tulisan saya diatas, ini dunia yang menarik bukan kejam. Saya tahu itu. Karena Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Seribu sujud syukur kupersembahkan pada Tuhanku yang telah menghadiahkan hidupku orangtua yang berhati malaikat. Semoga Allah memanjangkan umur mereka. Semoga Allah terus memberi kesadaran padaku dan pada anak-anak lainnya agar ketika kami dipuncak kesuksesan kami tak lupa untuk berbalik, menggenggam tangan sepasang manusia dan menciumnya, bersujud dan menciumi mata kakinya seraya berkata “Mama..papa.. Tak mampu ku membalas semua yang kalian lakukan, bahkan kesuksesan ku pun tak mampu membayarnya, tapi ketahuilah seluruh perjuanganku hanya untuk kalian. Karena aku tahu mama papa selalu memberitahu, bahwa kebahagiaanku adalah kebahagiaan kalian. Aku mencintai kalian lebih dari diriku.”
Satu hal yang aku percayai, berhenti kuliah  bukanlah balasan yang tepat untuk menghilangkan beban dari orangtuaku. Menjadi sukseslah balasan yan sangat tepat untuk menghentikan beban mereka~

Dalam sepenggal renungan,
Gorontalo, 27/09/2015
Selvi A. Ahmad (Sang Pemimpi)

Selasa, 08 Maret 2016

The Part Of The Secret Girl : Antara permohonan atau pemaksaan




Assalamu'alaikum.
Hola guys.. Sudah lama saya tidak nyampah disini, hihi :v
Cerita disini adalah salah satu potongan dari cerita yang saya buat. Dibilang Novel lembarnya masih sedikit. Dibilang Cerpen lembarnya kebanyakan, hahaha. Sama kaya lirik lagu dangdut.. "Dibilang benci aku rindu. Dibilang bosan aku sayang.." *Nyanyi ala danang* ...
Gambarnya masih hasil search  di internet, soalnya cover dari TSG (The Secret Girl) masih dalam proses pembuatan, teman saya dhea si pembuat cover masih sibuk kuliah sama seperti saya. It's okay lah, ceritanya juga masih dalam proses. So rapopo..
Semoga cerita  ini ga ngegantung seperti cerita lainnya yang saya buat. Aamii aamiin.


"........Berada didaerah tertinggal membuatku tak bisa bermimpi banyak, kehidupan yang tidak bisa dibilang cukup, mampu menghancurkan semua mimpi indah yang telah ku bangun sejak lama. Orang tua yang tak bisa dibilang sehat lagi, kenyataan – kenyataan itu mampu meremukkan seluruh jiwaku dan menyadarkanku harus sejauh mana aku terbang. Sempurna, itulah apa yang ada dibenakku ketika aku menyusun mimpiku, bayangan cerah di hari-hari ke depan setelah mengejar mimpiku terus memenuhi ruang imajinasiku. Terbang bebas kemana aku ingin pergi dan apa yang ingin aku lakukan, itulah mimpiku. Tak peduli seperti apa keadaanku, semampu apa ke dua orang tuaku, dan sebisa apa aku, aku hanya bermimpi semauku. Benar – benar indah aku benar- benar bahagia jika memikirkannya. Beberapa saat… mimpi itu menghampiriku dan berbisik lembut. Sejauh mana lagi aku akan pergi? Sampai batas mana engkau akan menerbangkanku?. Aku menjawab, aku akan menerbangkanmu setinggi mungkin, hingga tak ada satupun bahkan dirimu mampu mematahkan sayapmu. ya aku selalu berkata dan selalu teringat kata motivasi dari pak Soekarno. Bermimpilah setinggi langit, karena jika kau jatuh, kau akan jatuh ditengah taburan bintang. Cukup bijak dan begitu memotivasi. Namun, sayang sangat disayang. Harapan tak seindah kenyataan. Mimpiku setinggi langit, lalu tiba-tiba aku jatuh, belum sempat aku melihat indahnya taburan bintang yang menghiburku tubuhku terlebih dahulu terpental keras menyentuh kulit bumi. Remuk, Rapuh, Luka, dan Sakit. Sangat sakit. Hingga mampu membuatku berpikir bahwa mati adalah satu-satunya cara agar aku tak merasakan perih dan sakitnya jatuh. Mungkin setelah kejadian ini, aku tak berani untuk bermimpi lagi. Malu, aku sungguh malu sekali. Aku malu pada langit, yang menatap wajah menyedihkanku ketika aku jatuh terpental ke bumi tanpa melihat indahnya bintang – bintang. Tuhan, Katakan padaku apa yang harus ku lakukan! Katakan padaku jalan mana yang harus ku ambil! Ku mohon katakan padaku, apakah aku harus menggapai mimpiku, ah tidak! lebih tepat memaksakan mimpiku meski itu seperti mencekik kedua orang tuaku? Ataukah aku harus menyerahkan mimpiku, yang telah ku usahakan dengan seluruh jiwa dan ragaku selama bertahun -tahun? Aku harus apa Tuhan??? Ku mohon katakan padaku apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tak sanggup mengambil keputusan sendiri, ini terlalu berat untuk ku tanggung! Katakan padaku, ku mohon!
Hidup terlalu didramatisir, ada hal – hal yang sebenarnya bisa diperbaiki namun karena berbagai alasan yang entah terlepas dari masuk diakal atau tidak yang terpenting adalah memperbaiki hal tersebut. Seperti ayahku, ia sebenarnya bisa disembuhkan ia bisa kembali normal, namun karena berbagai alasan dan hal katanya ia tidak bisa melakukan hal seperti pengobatan itu. Jelas sekali, sebenarnya itu masih bisa disembuhkan namun ia malah menyangkal dan sebelum mencobanya ia tidak percaya dan tidak yakin jika hal tersebut membantu. Entahlah, alasan apapun itu kupikir jika ayah benar-benar ingin sembuh dan lepas dari belenggu menahan sakit yang membuat menderita seharusnya ayah mencari cara agar ia bisa pulih kembali. Tak peduli apa itu, ayah tahu atau tidak kesehatan ayah, sosok ayah adalah yang terpenting bagi anak-anak dan istrinya. Hal tersebut lebih penting dari alasan ayah yang mungkin menunda pengobatan hanya karena mengingat anak-anaknya sedang bersekolah membutuhkan biaya, harus mengumpulkan biaya untuk mewujudkan mimpiku yang memaksa ini. Terlihat jelas, mengapa hidupku terlihat begitu menderita, begitu melarat hanya karena satu alasan materi. Iya materi dan materi. Semua hal berbau materi dan hampir sebagian besar mengejar materi. Munafik. Itulah aku, aku terlalu berpura-pura bahwa aku tak butuh materi. Tidak! Aku hanya membohongi diriku sendiri, aku hanya terlalu malu mengakui bahwa aku adalah salah satu dari orang-orang yang menginginkan materi. Dunia, dimanakah ujung letakmu, kan kucari hingga ku temukan kau. Benar adanya aku bermimpi lagi, lalu aku harus apa jika tidak bermimpi. Setidaknya hanya didunia mimpilah aku merasa bahagia memiliki hal yang tak kumiliki didunia nyata. Sesulit inikah? Bahkan bermimpi saja tak bisa? Lalu aku harus apa?. Mengapa mereka melarangku untuk  bermimpi. Ini Kisahku. Gadis pecundang yang tak tahu malu. Tak ada yang mengenalku. Bahkan malaikatpun tak tahu........."

Karya : Selvi A. Ahmad

About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman