Selasa, 08 Maret 2016

The Part Of The Secret Girl : Antara permohonan atau pemaksaan




Assalamu'alaikum.
Hola guys.. Sudah lama saya tidak nyampah disini, hihi :v
Cerita disini adalah salah satu potongan dari cerita yang saya buat. Dibilang Novel lembarnya masih sedikit. Dibilang Cerpen lembarnya kebanyakan, hahaha. Sama kaya lirik lagu dangdut.. "Dibilang benci aku rindu. Dibilang bosan aku sayang.." *Nyanyi ala danang* ...
Gambarnya masih hasil search  di internet, soalnya cover dari TSG (The Secret Girl) masih dalam proses pembuatan, teman saya dhea si pembuat cover masih sibuk kuliah sama seperti saya. It's okay lah, ceritanya juga masih dalam proses. So rapopo..
Semoga cerita  ini ga ngegantung seperti cerita lainnya yang saya buat. Aamii aamiin.


"........Berada didaerah tertinggal membuatku tak bisa bermimpi banyak, kehidupan yang tidak bisa dibilang cukup, mampu menghancurkan semua mimpi indah yang telah ku bangun sejak lama. Orang tua yang tak bisa dibilang sehat lagi, kenyataan – kenyataan itu mampu meremukkan seluruh jiwaku dan menyadarkanku harus sejauh mana aku terbang. Sempurna, itulah apa yang ada dibenakku ketika aku menyusun mimpiku, bayangan cerah di hari-hari ke depan setelah mengejar mimpiku terus memenuhi ruang imajinasiku. Terbang bebas kemana aku ingin pergi dan apa yang ingin aku lakukan, itulah mimpiku. Tak peduli seperti apa keadaanku, semampu apa ke dua orang tuaku, dan sebisa apa aku, aku hanya bermimpi semauku. Benar – benar indah aku benar- benar bahagia jika memikirkannya. Beberapa saat… mimpi itu menghampiriku dan berbisik lembut. Sejauh mana lagi aku akan pergi? Sampai batas mana engkau akan menerbangkanku?. Aku menjawab, aku akan menerbangkanmu setinggi mungkin, hingga tak ada satupun bahkan dirimu mampu mematahkan sayapmu. ya aku selalu berkata dan selalu teringat kata motivasi dari pak Soekarno. Bermimpilah setinggi langit, karena jika kau jatuh, kau akan jatuh ditengah taburan bintang. Cukup bijak dan begitu memotivasi. Namun, sayang sangat disayang. Harapan tak seindah kenyataan. Mimpiku setinggi langit, lalu tiba-tiba aku jatuh, belum sempat aku melihat indahnya taburan bintang yang menghiburku tubuhku terlebih dahulu terpental keras menyentuh kulit bumi. Remuk, Rapuh, Luka, dan Sakit. Sangat sakit. Hingga mampu membuatku berpikir bahwa mati adalah satu-satunya cara agar aku tak merasakan perih dan sakitnya jatuh. Mungkin setelah kejadian ini, aku tak berani untuk bermimpi lagi. Malu, aku sungguh malu sekali. Aku malu pada langit, yang menatap wajah menyedihkanku ketika aku jatuh terpental ke bumi tanpa melihat indahnya bintang – bintang. Tuhan, Katakan padaku apa yang harus ku lakukan! Katakan padaku jalan mana yang harus ku ambil! Ku mohon katakan padaku, apakah aku harus menggapai mimpiku, ah tidak! lebih tepat memaksakan mimpiku meski itu seperti mencekik kedua orang tuaku? Ataukah aku harus menyerahkan mimpiku, yang telah ku usahakan dengan seluruh jiwa dan ragaku selama bertahun -tahun? Aku harus apa Tuhan??? Ku mohon katakan padaku apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tak sanggup mengambil keputusan sendiri, ini terlalu berat untuk ku tanggung! Katakan padaku, ku mohon!
Hidup terlalu didramatisir, ada hal – hal yang sebenarnya bisa diperbaiki namun karena berbagai alasan yang entah terlepas dari masuk diakal atau tidak yang terpenting adalah memperbaiki hal tersebut. Seperti ayahku, ia sebenarnya bisa disembuhkan ia bisa kembali normal, namun karena berbagai alasan dan hal katanya ia tidak bisa melakukan hal seperti pengobatan itu. Jelas sekali, sebenarnya itu masih bisa disembuhkan namun ia malah menyangkal dan sebelum mencobanya ia tidak percaya dan tidak yakin jika hal tersebut membantu. Entahlah, alasan apapun itu kupikir jika ayah benar-benar ingin sembuh dan lepas dari belenggu menahan sakit yang membuat menderita seharusnya ayah mencari cara agar ia bisa pulih kembali. Tak peduli apa itu, ayah tahu atau tidak kesehatan ayah, sosok ayah adalah yang terpenting bagi anak-anak dan istrinya. Hal tersebut lebih penting dari alasan ayah yang mungkin menunda pengobatan hanya karena mengingat anak-anaknya sedang bersekolah membutuhkan biaya, harus mengumpulkan biaya untuk mewujudkan mimpiku yang memaksa ini. Terlihat jelas, mengapa hidupku terlihat begitu menderita, begitu melarat hanya karena satu alasan materi. Iya materi dan materi. Semua hal berbau materi dan hampir sebagian besar mengejar materi. Munafik. Itulah aku, aku terlalu berpura-pura bahwa aku tak butuh materi. Tidak! Aku hanya membohongi diriku sendiri, aku hanya terlalu malu mengakui bahwa aku adalah salah satu dari orang-orang yang menginginkan materi. Dunia, dimanakah ujung letakmu, kan kucari hingga ku temukan kau. Benar adanya aku bermimpi lagi, lalu aku harus apa jika tidak bermimpi. Setidaknya hanya didunia mimpilah aku merasa bahagia memiliki hal yang tak kumiliki didunia nyata. Sesulit inikah? Bahkan bermimpi saja tak bisa? Lalu aku harus apa?. Mengapa mereka melarangku untuk  bermimpi. Ini Kisahku. Gadis pecundang yang tak tahu malu. Tak ada yang mengenalku. Bahkan malaikatpun tak tahu........."

Karya : Selvi A. Ahmad

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman