I AM A MOSLEM and I AM KPOPER : Melangkah Hijrah ? (BTS dan Korea)
Assalamu’alaikum semuanya..
Apa kabar teman-teman?
Alhamdulillah aku
muncul lagi, tapi postingan kali ini sedikit memuat unsur curhatan. Mungkin curhatan yang akan mewakilkan kondisi
ku dan beberapa orang lainnya diluar sana…
Akhir-akhir ini, oh tidak bukan hanya akhir-akhir
ini, tapi dari waktu lalu lalu aku mengalami dilemma mendalam. Ini tentang
dunia yang sudah ku geluti selama 9 tahun lamanya, dunia yang mampu menjagaku dari bisikan untuk tidak tertarik menjalani
hubungan yang tak halal. Inilah dunia perkpop-an. Tahun 2009 aku mulai masuk ke
dalam dunia ini, sampai detik ini aku belum juga beranjak dari dunia itu.
Teman-temanku sudah banyak yang hijrah, namun aku bersama salah seorang temanku
masih terkungkung dalam dunia fana ini. Dulu waktu semester 1 – 3 kuliah aku
sempat hijrah (sekarang aku semester 6), itu karena aku saat itu menyukai big bang dan kutemukan ternyata
mereka penganut iluminati dan aku dengan mantap meninggalkan dunia ini. Semua
berjalan seperti biasanya, namun setelah
2016 aku dengan tanpa sadar mulai terjebak kembali, yaitu ketika aku jatuh hati
dengan boyband BTS. Buatku mereka berbeda, buatku mereka bukan hanya sebuah
boyband korea, mereka adalah pemusik yang jenius, yang awalnya tidak dianggap
oleh dunia dan sekarang seisi amerika eropa dan asia mengaguminya. Aku terus
menyemangati mereka, dan mereka menyemangatiku lewat lagunya. Ga ada unsure iluminati
seperti yang lain sejauh aku mencarinya, liriknya kebanyakan berisi penolakan
terhadap keputusasaan dalam berjuang di hidup dan bermusik, liriknya banyak
mengkritisi pemerintah dan oknum-oknumnya, berisi kritikan terhadap sistem yang
bobrok dan mengekang. Ah itulah alasan terbesar aku mencintai karya mereka. Hingga
semalam aku membuka semua postingan @fuadbkh di instagram, banyak postingan
yang menceramahi para kpopers, aku sontak kaget, dan spontan mencari pembenaran.
Ku katakan bahwa aku tidak seburuk mereka yang lain, yang menghabiskan uang
orangtuanya hanya untuk membeli album dan pernak-pernik lainnya, aku masih
menjaga diri dan ibadah, mungkin pikiranku terlalu sombong. Itu terjadi karena aku benar-benar
belum menerima kenyataan bahwa aku telah tersesat di jalan yang keliru. Lalu aku
mulai membandingkan lagi diriku dengan teman-teman yang bukan kpopers. Mereka memang
tidak mengidolakan siapapun, tapi mereka pacaran dan tidak melaksanakan
perintah Allah seperti shalat dan membaca al-qur’an, dan aku lalu mulai merasa
diriku lebih baik. Aku masih dilemma,
pertanyaan- pertanyaan banyak muncul
dari dalam kepalaku. Tak bisakah aku tetap menyemangati mereka bahkan setelah
mencari tahu bahwa mereka bukan pengikut iluminati? Aku berjanji tak akan
melalaikan kewajibanku, tak bisakah aku tetap menyukai mereka? Rasa suka pada
mereka, tak benar rasanya dibanding-bandingkan dengan rasa cinta kepada Tuhan
dan Nabiku. Aku menyukai mereka Karena
aku menjadikan mereka sebagai media agar aku bisa belajar bahasa inggris dan
bahasa korea dan banyak hal lainnya, aku serius sekali lagi ini bukan alasan,
aku harus akui aku mulai pandai berbahasa inggris dan korea karena mereka. Dan pembelajaranku
belumlah usai. Bolehkah aku tetap melakukannya? Aku tidak ingin menghapus semua
koleksi ku tentang korea karena itu hanya sekadar hiburan bagiku yang memilih
prinsip untuk sendiri dulu, apakah itu juga masih tak boleh? Lirik mereka tak
ada unsur zinanya, tetap tak boleh?
Aku terus merasa bahwa dilemma ini menjadikanku
seseorang yang terus mencari pembenaran. Itu
yang mereka yakinkan padaku.
Dikepalaku selalu terngiang bahwa aku ini wanita
muslimah yang demokrasi, aku menunaikan kewajibanku dan aku melakukan apa yang
menjadi hakku. Tapi mereka mengatakan itu salah dan keliru. Banyak pertentangan
dalam diriku, bukan pada agamaku, tapi pada mereka yang menyampaikan firman Tuhan dan menghakimi diriku kafir. Aku harus bagaimana.
Akupun tak mudah meninggalkan ini, walaupun aku pasti harus meninggalkan ini. Bagaimana
jika hatiku menolak dan menjadi sakit jika dipaksakan seperti itu.
Mereka terus menghakimiku, atau mungkin hanya aku
yang merasa terhakimi. Merasa terkekang. Senista itukah orang sepertiku? Tidak,
aku tidak pernah menyalahkan agamaku, aku mencintai agamaku dan yakin setriliun
persen bahwa agamaku adalah kebenaran
yang berasal dari Tuhan. Tapi aku sungguh tak ingin pemaksaan. Bukankah
semua orang punya masa kelamnya? Dan belajar dari hal tersebut. Aku sedang
dalam proses menuju itu, aku pasti akan menuju ke tahap itu. Tapi jika
dipaksakan seperti ini sifat rasionalitasku akan membentengi hal tersebut dan
membuatnya menjadi rumit. Membuat ku mencari berbagai alasan karena pada intinya belum siap sepenuhnya. Yang mengalami
hal ini aku yakin bukan hanya diriku,
diluar sana banyak yang sepertiku, ku mohon rangkul kami secara perlahan agar
kami paham dan mengikuti jalan kebenaran.
Halo sahabatku Aulia, jika kau membaca ini mungkin di percakapan kita via telpon atau medsos nanti harus kita kurangi membahas seberapa lucu dan bertalentanya oppa-oppa itu, walau mungkin tidak sepenuhnya musnah pembicaraan tersebut karena akan mengakibatkan komunikasi kita menjadi garing dan tak menarik lagi, kita harus tetap mencoba menguranginya semampu kita.
Halo sahabatku Aulia, jika kau membaca ini mungkin di percakapan kita via telpon atau medsos nanti harus kita kurangi membahas seberapa lucu dan bertalentanya oppa-oppa itu, walau mungkin tidak sepenuhnya musnah pembicaraan tersebut karena akan mengakibatkan komunikasi kita menjadi garing dan tak menarik lagi, kita harus tetap mencoba menguranginya semampu kita.
Wallahu’alam,. Insyaa Allah..Untuk teman-teman do’a kan kami yang
ingin berhijrah…
Aku ingin membagikan lirik karya bts yang sangat memotivasiku..
Title : NO!
Sebuah rumah yang bagus, mobil bagus,
Akankah hal-hal ini membawa kebahagiaan?
Di Seoul ke langit, akankah orang tua merasa senang?
Impian menghilang,tidak ada waktu untuk beristirahat,
Siklus sekolah, rumah atau warnet
Semua orang menjalani kehidupan yang sama
Mahasiswa yang mendapat tekanan menjadi nomor satu diantara mimpi dan kenyataan
Siapakah yang membuat kita menjadi mesin belajar?
Mereka mengklasifikasikan kita baik menjadi nomor 1 atau di keluarkan
Mereka menjebak kita dalam perbatasan, orang dewasa
Tidak ada pilihan selain persetujuan
Bahkan jika kita berpikir sederhana
Itu adalah kelangsungan hidup yang sesuai
Siapa yang kamu pikir adalah salah satu yang membuat kita menginjak-
Bahkan teman-teman dekat kita untuk naik? Apa?!
Orang dewasa mengatakan kepadaku hanya sesaat
Untuk bertahan sedikit lagi, untuk melakukannya nanti
Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll
Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll
Sebuah rumah yang bagus, mobil bagus,
Akankah hal-hal ini membawa kebahagiaan?
Di Seoul ke langit, akankah orang tua merasa senang?
Aku ingin bermain dan makan, aku ingin merobek seragamku
Aku ingin menghasilkan uang, uang yang halal
Tapi mereka sudah melihatku miring
Rekening bank ku di block
Ketidakbahagiaan ku melewati batasnya
Sebuah pabrik mendesah sambil belajar, suatu siklus yang berkelanjutan
Orang-orang dewasa mengakui bahwa kita memiliki begitu kemudahan
Mereka mengatakan bahwa kita lebih bahagia daripada bagian kami,
Lalu bagaimana kamu menjelaskan ketidakbahagiaan diriku?
Tidak ada topik percakapan selain belajar
Diluar, ada begitu banyak anak-anak sepertiku,
Menjalani kehidupan boneka
Siapa yang akan bertanggung jawab?
Orang dewasa mengatakan kepadaku hanya sesaat
Untuk bertahan sedikit lagi, untuk melakukannya nanti
Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll
Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
