Minggu, 04 Maret 2018

I AM A MOSLEM and I AM KPOPER : Melangkah Hijrah ? (BTS dan Korea)



Assalamu’alaikum semuanya..

Apa kabar teman-teman?

Alhamdulillah aku  muncul lagi, tapi postingan kali ini sedikit memuat unsur curhatan.  Mungkin curhatan yang akan mewakilkan kondisi ku dan beberapa orang lainnya diluar sana…



Akhir-akhir ini, oh tidak bukan hanya akhir-akhir ini, tapi dari waktu lalu lalu aku mengalami dilemma mendalam. Ini tentang dunia yang sudah ku geluti selama 9 tahun lamanya, dunia yang mampu menjagaku  dari bisikan untuk tidak tertarik menjalani hubungan yang tak halal. Inilah dunia perkpop-an. Tahun 2009 aku mulai masuk ke dalam dunia ini, sampai detik ini aku belum juga beranjak dari dunia itu. Teman-temanku sudah banyak yang hijrah, namun aku bersama salah seorang temanku masih terkungkung dalam dunia fana ini. Dulu waktu semester 1 – 3 kuliah aku sempat hijrah (sekarang aku semester 6), itu karena aku saat  itu menyukai big bang dan kutemukan ternyata mereka penganut iluminati dan aku dengan mantap meninggalkan dunia ini. Semua berjalan seperti biasanya, namun  setelah 2016 aku dengan tanpa sadar  mulai  terjebak kembali, yaitu ketika aku jatuh hati dengan boyband BTS. Buatku mereka berbeda, buatku mereka bukan hanya sebuah boyband korea, mereka adalah pemusik yang jenius, yang awalnya tidak dianggap oleh dunia dan sekarang seisi amerika eropa dan asia mengaguminya. Aku terus menyemangati mereka, dan mereka menyemangatiku lewat lagunya. Ga ada unsure iluminati seperti yang lain sejauh aku mencarinya, liriknya kebanyakan berisi penolakan terhadap keputusasaan dalam berjuang di hidup dan bermusik, liriknya banyak mengkritisi pemerintah dan oknum-oknumnya, berisi kritikan terhadap sistem yang bobrok dan mengekang. Ah itulah alasan terbesar aku mencintai karya mereka. Hingga semalam aku membuka semua postingan @fuadbkh di instagram, banyak postingan yang menceramahi para kpopers, aku sontak kaget, dan spontan mencari pembenaran. Ku katakan bahwa aku tidak seburuk mereka yang lain, yang menghabiskan uang orangtuanya hanya untuk membeli album dan pernak-pernik lainnya, aku masih menjaga diri dan ibadah, mungkin pikiranku terlalu  sombong. Itu terjadi karena aku benar-benar belum menerima kenyataan bahwa aku telah tersesat di jalan yang keliru. Lalu aku mulai membandingkan lagi diriku dengan teman-teman yang bukan kpopers. Mereka memang tidak mengidolakan siapapun, tapi mereka pacaran dan tidak melaksanakan perintah Allah seperti shalat dan membaca al-qur’an, dan aku lalu mulai merasa diriku lebih baik.  Aku masih dilemma, pertanyaan-  pertanyaan banyak muncul dari dalam kepalaku. Tak bisakah aku tetap menyemangati mereka bahkan setelah mencari tahu bahwa mereka bukan pengikut iluminati? Aku berjanji tak akan melalaikan kewajibanku, tak bisakah aku tetap menyukai mereka? Rasa suka pada mereka, tak benar rasanya dibanding-bandingkan dengan rasa cinta kepada Tuhan dan   Nabiku. Aku menyukai mereka Karena aku menjadikan mereka sebagai media agar aku bisa belajar bahasa inggris dan bahasa korea dan banyak hal lainnya, aku serius sekali lagi ini bukan alasan, aku harus akui aku mulai pandai berbahasa inggris dan korea karena mereka. Dan pembelajaranku belumlah usai. Bolehkah aku tetap melakukannya? Aku tidak ingin menghapus semua koleksi ku tentang korea karena itu hanya sekadar hiburan bagiku yang memilih prinsip untuk sendiri dulu, apakah itu juga masih tak boleh? Lirik mereka tak ada unsur zinanya, tetap tak boleh?

Aku terus merasa bahwa dilemma ini menjadikanku seseorang yang terus mencari pembenaran. Itu  yang mereka yakinkan  padaku.

Dikepalaku selalu terngiang bahwa aku ini wanita muslimah yang demokrasi, aku menunaikan kewajibanku dan aku melakukan apa yang menjadi hakku. Tapi mereka mengatakan itu salah dan keliru. Banyak pertentangan dalam diriku, bukan pada agamaku, tapi pada mereka yang  menyampaikan firman Tuhan dan  menghakimi diriku kafir. Aku harus bagaimana. Akupun tak mudah meninggalkan ini, walaupun aku pasti harus meninggalkan ini. Bagaimana jika hatiku menolak dan menjadi sakit jika dipaksakan seperti itu.

Mereka terus menghakimiku, atau mungkin hanya aku yang merasa terhakimi. Merasa terkekang. Senista itukah orang sepertiku? Tidak, aku tidak pernah menyalahkan agamaku, aku mencintai agamaku dan yakin setriliun persen bahwa agamaku adalah kebenaran  yang berasal dari Tuhan. Tapi aku sungguh tak ingin pemaksaan. Bukankah semua orang punya masa kelamnya? Dan belajar dari hal tersebut. Aku sedang dalam proses menuju itu, aku pasti akan menuju ke tahap itu. Tapi jika dipaksakan seperti ini sifat rasionalitasku akan membentengi hal tersebut dan membuatnya menjadi rumit. Membuat ku mencari berbagai alasan karena pada intinya belum siap sepenuhnya. Yang  mengalami hal ini  aku yakin bukan hanya diriku, diluar sana banyak yang sepertiku, ku mohon rangkul kami secara perlahan agar kami paham dan mengikuti jalan kebenaran. 
Halo sahabatku Aulia, jika kau membaca ini mungkin di percakapan kita via telpon atau medsos nanti harus kita kurangi membahas seberapa lucu dan bertalentanya oppa-oppa itu, walau mungkin tidak sepenuhnya musnah pembicaraan tersebut karena akan mengakibatkan komunikasi kita menjadi garing dan tak menarik  lagi, kita harus tetap mencoba menguranginya semampu kita. 


Wallahu’alam,. Insyaa Allah..Untuk teman-teman do’a kan kami yang ingin berhijrah…

Aku ingin membagikan lirik karya bts yang sangat memotivasiku..
Title : NO!



Sebuah rumah yang bagus, mobil bagus,
Akankah hal-hal ini membawa kebahagiaan?
Di Seoul ke langit, akankah orang tua merasa senang?

Impian menghilang,tidak ada waktu untuk beristirahat,
Siklus sekolah, rumah atau warnet
Semua orang menjalani kehidupan yang sama
Mahasiswa yang mendapat tekanan menjadi nomor satu diantara mimpi dan kenyataan

Siapakah yang membuat kita menjadi mesin belajar?
Mereka mengklasifikasikan kita baik menjadi nomor 1 atau di keluarkan
Mereka menjebak kita dalam perbatasan, orang dewasa
Tidak ada pilihan selain persetujuan
Bahkan jika kita berpikir sederhana
Itu adalah kelangsungan hidup yang sesuai
Siapa yang kamu pikir adalah salah satu yang membuat kita menginjak-
Bahkan teman-teman dekat kita untuk naik? Apa?!

Orang dewasa mengatakan kepadaku hanya sesaat
Untuk bertahan sedikit lagi, untuk melakukannya nanti

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll.  We roll (roll). We roll

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll

Sebuah rumah yang bagus, mobil bagus,
Akankah hal-hal ini membawa kebahagiaan?
Di Seoul ke langit, akankah orang tua merasa senang?

Aku ingin bermain dan makan, aku ingin merobek seragamku
Aku ingin menghasilkan uang, uang yang halal
Tapi mereka sudah melihatku miring
Rekening bank ku di block
Ketidakbahagiaan ku melewati batasnya
Sebuah pabrik mendesah sambil belajar, suatu siklus yang berkelanjutan

Orang-orang dewasa mengakui bahwa kita memiliki begitu kemudahan
Mereka mengatakan bahwa kita lebih bahagia daripada bagian kami,
Lalu bagaimana kamu menjelaskan ketidakbahagiaan diriku?
Tidak ada topik percakapan selain belajar
Diluar, ada begitu banyak anak-anak sepertiku,
Menjalani kehidupan boneka
Siapa yang akan bertanggung jawab?

Orang dewasa mengatakan kepadaku hanya sesaat
Untuk bertahan sedikit lagi, untuk melakukannya nanti

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll

Semuanya katakan tidak
Itu tidak bisa menjadi apapun
Jangan terjebak dalam mimpi orang lain
We roll. We roll (roll). We roll
Semuanya katakan tidak

Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak
Semuanya katakan tidak





About Me

I'm from Buol, Sulteng. I'm a woman who is fighting for the future. A student of public health. Who Loved Islam, family, community, justice, education, literature and art. love the world.
Follow me on Instagram : @selvi.aahmad On Twitter : @selvie97 FB : Selvie Ahmad

Twitter

Follow me @Selvie97

Facebook

FB : Selvie Ahmad

Total Tayangan Halaman